Guru Harus Berkarya Lebih Menarik Agar Terindeks

212
Workshop Penulisan Karya Ilmiah di UPY, Rabu (25/10/2017). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Pembuatan karya atau jurnal ilmiah menjadi keharusan para guru pada saat ini. Hal tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No 16 Tahun 2009 Tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.

Namun seringkali pembuatan karya atau jurnal ilmiah tersebut tidak menarik. Guru lebih banyak menyampaikan karya ilmiahnya dalam bentuk pemaparan tanpa gambar atau grafik.

“Ada guru yang membuat karya ilmiah berpuluh-puluh halaman hanya dengan pemaparan tanpa grafik atau gambar. Ini sangat tidak menarik untuk dibaca atau dinilai,” ujar dosen PPKn Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) dalam Workshop Penulisan Karya Ilmiah di kampus setempat, Rabu (25/10/2017) dengan moderator dosen PPKn, Sigit Handoko

Padahal pembuatan karya atau jurnal yang menarik sangat penting agar bisa dipublikasikan dalam jurnal-jurnal yang terindeks atau bereputasi nasional atau bahkan internasional. Publikasi tersebut memiliki nilai penting bagi penambahan angka kredit guru dalam proses sertifikasi atau mendapatkan tunjangan profesi sebagai tenaga pendidik.

“Karenanya guru perlu kreatif membuat karya ilmiah, isu bisa diambil dari beragam kejadian di sekolah dengan memperlihatkan fakta aktual,” tandasnya.

Sementara Kepala Pusat Publikasi UPY, Marti Widya Sari mengungkapkan, selain pembuatan jurnal yang menari, guru juga harus mengetahui cara mengirim ke jurnal-jurnal bereputasi nasional dan internasional. Mereka juga mesti paham petunjuk penulisan di tiap jurnal.

“Setiap jurnal memiliki tata tulis yang berbeda. Sesuaikan tulisan yang dibuat dengan petunjuk penulisan,” jelasnya.

Yang tidak kalah penting, lanjut Marti, para guru harus mengecek karya mereka apakah masuk kategori plagiasi atau tidak. Pengecekan bisa dilakukan melalui aplikasi online yang tidak berbayar.(yve)