Guru SD Ini Ikut Pelatihan Astronot di Amerika

173
Nur Fitriana menjalani pelatihan Astronot di US Space & Rocket Center (USSRC) di Huntsville, Alabama, Amerika Serikat. (istimewa)

KORANBERNAS.ID–Pengalaman dan kesempatan yang sangat berkesan dialami oleh seorang guru SD dari Kabupaten Sleman. Ya dialah Nur Fitriana (32), yang merupakan guru di SD Negeri Deresan Condongcatur Depok Sleman.

Ia tidak pernah menyangka bisa menjadi satu diantara peserta program Honeywell Educators at Space Academy yang mengikuti pelatihan Astronot di US Space & Rocket Center (USSRC) di Huntsville, Alabama, Amerika Serikat.

Pasalnya, dari 2.776 peserta yang mendaftar, hanya 118 peserta saja yang dipilih untuk mengikuti pelatihan tersebut.

“Alhamdulillah saya terpilih diantara 2.776 pendaftar. Untuk peserta dari Indonesia ada 10 orang. Itu merupakan peserta terbanyak dari 63 negara,”kata Fitri panggilan Nur Fitriana, Selasa (03/07/2018) sore.

Meskipun pelatihan tersebut hanya lima hari, yakni di 21-25 Juni 2018, bagi Fitri tetap merupakan pengalaman yang sangat menarik dan luar biasa.

Menurut ceritanya, ia mengetahui adanya program pelatihan yang dilaksanakan rutin tiap tahun ini dari temannya pada 2016. Saat itu, dia tertarik mencoba mendaftar, tetapi sempat berpikir apakah pelatihan ini bisa menunjang kegiatan belajar terutama kaitannya dengan profesi seorang guru.

Fitri kemudian mempelajari jurnal internasional soal astronot yang ternyata erat dengan science, technology, engineering, mathematics (STEM).

Pada September 2017 dia akhirnya mendaftar melalui internet dengan mengirimkan persyaratan dan artikel berisi penelitiannya soal sumber daya listrik alternatif berupa baterai yang isi karbonnya diganti dengan kulit sayur dan buah, serta membuat jembatan dari koran bekas yang kuat menahan beban batu bata.

“Pengumuman seleksi tanggal 28 Desember 2017, sempat deg-degan kok nggak ada email balasan, berarti nggak diterima. Saya guru SD biasa dan tak pernah berbahasa Inggris dalam keseharian, jadi saya coba santai saja karena niat daftar murni ingin menuntut ilmu. Yang penting sudah mencoba. Dua hari setelahnya pas bangun tidur mau subuhan, tiba-tiba ada email masuk di HP, saya cek berisi informasi diterima,” kisahnya.

Fitri akhirnya berangkat bersama 9 orang dari Indonesia yang lolos seleksi. Seluruhnya juga berprofesi guru untuk berlatih menjadi seorang astronot di USSRC.

Di sana Fitri dilatih oleh para profesor dan ahli bidang STEM, hingga astronot yang telah menjalani misi ke luar angkasa.

“Selama lima hari kita dilatih menjadi seorang astronot, simulasi naik pesawat ke luar angkasa, sistem mesin, juga pelatihan karakter, mental, disiplin, dan ada praktik memakai teknologi serta pemanfaatan barang bekas dalam STEM,”tutur Fitri.

Bagi Fitri banyak pengalaman menarik, meskipun hanya 5 hari.

“Kami berkumpul dengan guru-guru di seluruh penjuru dunia. Waktu itu peserta dari 63 dengan peserta sejumlah 118 guru, baik guru SD, SMP, SMA terutama di bidang matematika dan sains,”kata perempuan yang berasal dari Nganjuk tersebut.

Perempuan kelahiran 9 Juli 1986 tersebut mengaku suami dan orang sekitarnya lah yang membuatnya bisa mengikuti pelatihan tersebut.

“Suami saya lah yang mendukung langkah dan karir saya, sehingga saya bisa sampai di titik ini. Saya juga berterimakasih kepada guru-guru, kepala sekolah dan kepala dinas yang mengizinkan saya untuk berkarya dan menimba ilmu. Saat ini saya menetap di Pringgolayan, Banguntapan, Bantul,” jelasnya.

Fitri belajar dan menjalani praktik layaknya seorang astronot. (istimewa)

Dari pelatihan tersebut Fitri mengaku bisa belajar banyak hal mengenai simulasi meluncurkan roket dengan peralatan yang sangat komplit.

“Yang menarik kami belajar simulasi meluncurkan roket dan mendarat di Mars. Itu yang membuat kami deg-degan. Kami sangat excited sekali karena alatnya sangat komplit dan semua pembelajaran di dominasi dengan praktek,”ungkapnya.

Selain itu Fitri juga belajar mengenai bagaimana memanfaatkan bahan bekas untuk mengurangi sampah yang ada.

“Menariknya lagi adalah selama ini Indonesia memakai bahan bekas untuk pembelajaran di kelas karena keterbatasan. Tapi di Amerika sana, justru siswa disuruh memakai bahan bekas untuk mengurangi sampah. Pelajaran itu yang kami dapatkan. Selain materi, kami juga bisa berdiskusi dengan guru lain dari berbagai negara. Apalagi di NASA tidak semua orang bisa masuk ke dalamnya,” paparnya.

Bagi Fitri, bisa bertemu dengan profesor dan astronot merupakan pengalaman yang sangat berharga.

Dia bisa mendengar langsung dan tanya jawab kepada astronot.

“Kami bisa bertemu dengan profesor dan astronotnya. Langsung berbagi pengalaman dan tanya jawab. Kami simulasi naik pesawat ke luar angkasa, sistem mesin, juga pelatihan karakter,” katanya.

Ke depan, Fitri akan berusaha mengimplementasikan ilmu yang didapat ke dalam kelas.

Dia juga akan berusaha mengubah mindset mengenai pembelajaran yang hanya dilakukan dengan mentransfer pelajaran kepada siswa, menjadi pembelajaran yang dilakukan dengan cara guru menjadi fasilitator.

“Selama ini implementasi ke siswa belum maksimal. Saya juga akan berbagi ke guru lain. Mengubah mindset biasanya hanya mentransfer materi, kali ini kita harus bisa benar-benar menjadi fasilitator sesuai dengan kurikulum 2013. Ini tidak bisa dilakukan sendiri, butuh dukungan dari teman-teman guru lain. Kami juga akan memaksimalkan barang bekas dan media yang mudah ditemukan di sekitar rumah dan sekolah,” terangnya. (SM)