Hafidh Asrom Jelaskan Sebab-sebab Terjadinya Intoleransi

261
Drs HA Hafidh Asrom MM menyampaikan penjelasan pada Sosialisasi Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika, Rabu (14/02/2018), di Kantor DPD RI DIY.

KORANBERNAS.ID – Anggota MPR RI Drs HA Hafidh Asrom MM merasa prihatin atas terjadinya peristiwa intoleransi di Sleman beberapa waktu lalu. Hal ini mencederai keberagaman di Indonesia khususnya DIY.

“Banyaknya kasus pelanggaran HAM terkait intoleransi antarumat beragama yang muncul di Indonesia, menjadi salah satu bukti belum ditegakkannya rasa toleransi secara keseluruhan,” ungkapnya kepada wartawan, Rabu (14/02/2018), pada acara Sosialisasi Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika.

Diskusi bertema Dai Pencerah untuk NKRI yang digelar di Kantor Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI DIY Jalan Kusumanegara kali ini diikuti kader-kader Nahdlatul Ulama (NU) dari Sleman terdiri dari Ansor, IPPNU serta Fatayat. Hadir pula Dr Abdur Rozaki MSi, Sosiolog UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Peserta sosialisasi mendengarkan paparan narasumber.

Menurut Hafidh Asrom, ada beberapa sebab kenapa intoleransi terus terjadi di sejumlah daerah. Pertama, masih lemahnya penegakan hukum.

“Pemerintah dalam hal ini aparat penegak hukum harus lebih tegas terhadap penindakan kasus intoleransi yang terjadi di masyarakat, khususnya terhadap minoritas,” kata dia.

Kedua, perlu diupayakan pendidikan yang toleran. Selama ini pendidikan masih dirasa kurang memberikan penekanan mengenai pentingnya nilai-nilai toleransi dan kebhinekaan.

“Pendidikan toleransi harus ditekankan sejak dini, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah dasar hingga sekolah menengah,” ungkap pimpinan Sekolah Al Azhar Yogyakarta itu.

Menurut dia, sistem pendidikan atau kurikulum harus disusun agar dapat menerapkan nilai-nilai rasa toleransi sejak dini. Hal itu juga perlu diiringi regulasi serta kebijakan berkeadilan yang tidak hanya memihak satu kelompok tertentu.

Ketiga, belum seragamnya perlakuan pejabat negara serta pejabat daerah dan masyarakat menanggapi keberadaan kelompok yang berbeda keyakinan.

Keempat,  masalah komunikasi antarumat beragama yang masih renggang dan diskusi dan pendidikan keberagaman yang belum intensif.

“Inilah pentingnya dilakukan dialog antaragama secara berkesinambungan di lingkungan organisasi masyarakat, LSM maupun perguruan tinggi serta organisasi keagamaan,” kata anggota Komite I DPD RI itu.

Sementara Abdur Rozaki dalam paparannya menyampaikan pentingnya warga NU bersikap waspada apabila ada upaya-upaya provokasi.

Tak lupa dia juga memotivasi para pemuda Ansor untuk menjaga para kiai dari upaya-upaya demoralisasi. Hal ini penting dalam rangka menjaga keutuhan masyarakat serta membentengi dari upaya memecah belah.

Deklarasi Sleman.

Sebagai gambaran, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 13.466 pulau. Dengan populasi lebih dari 258 juta jiwa pada tahun 2016, Indonesia merupakan negara berpenduduk terbesar keempat di dunia serta negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia, dengan lebih dari 207 juta jiwa.

Ditambah lagi, Indonesia memiliki kurang lebih 700 suku bangsa yang tersebar di seluruh penjuru nusantara, dengan tipe kelompok masyarakat yang berbeda agama.

“Masyarakat kita adalah masyarakat yang majemuk dengan karakteristik begitu unik yaitu kegotong-royongan, tenggang rasa, tepa selira, menghormati orang yang lebih tua. Ini menjadi modal utama bagi masyarakat kita dalam rangka menjaga keharmonisan dan kesatuan,” kata Hafidh Asrom menambahkan.

Mengutip data dari Komnas HAM, pengaduan tentang peristiwa pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan begitu tinggi. Pada 2010, Komnas HAM menerima 84 buah pengaduan.

Pada 2011 terjadi sebanyak 83 pengaduan, pada tahun 2012 tercatat 68 pengaduan, sementara tahun 2013 terdapat 39 berkas pengaduan.

Data tersebut merupakan data yang tercatat antara tahun 2010-2013, belum ditambah dengan deretan kasus lainnya hingga 2018, termasuk di dalamnya kasus perusakan masjid dan gereja di Yogyakarta.

Pada acara itu, juga dilakukan penandatanganan Deklarasi Sleman oleh Ketua PCNU Sleman, Ketua PC Fatayat Sleman, Banser Sleman, Ketua IPNU Sleman, Ketua PC IPPNU Sleman serta Ketua PC Pagarnusa.

Inti dari deklarasi itu, mereka mengajak semua pihak untuk menjaga toleransi, kedamaian dan kerukunan di wilayah Sleman khususnya DIY dan Indonesia pada umumnya. (sol)