Hanya di Sleman, Olimpiade Ini Digelar

98
Wakil Bupati Sleman,  Sri Muslimatun, Minggu (04/03/2018) membuka olimpiade Kitab Kuning tahun 2018. (istimewa)

KORANBERNAS.ID–Untuk kedua kalinya Pemerintah Kabupaten Sleman bekerja sama dengan Forum Silaturrahmi Pondok Pesantren (FORSIPP) menggelar Olimpiade Kitab Kuning. Agenda tahunan tersebut dibuka oleh Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun, Minggu (04/03/2018) bertempat di Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Pandanaran (STAISPA), Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman.

Sri Muslimatun mengatakan, Pemkab Sleman sengaja membuatkan anggaran untuk kegiatan tersebut setiap tahunnya. Menurutnya hal tersebut semata-mata sebagai ucapan terima kasih Pemerintah Kabupaten Sleman kepada Pondok Pesantren.

Sri Muslimatun juga menuturkan bahwa Pondok Pesantren memiliki andil yang besar dalam menanamkan pendidikan karakter kepada masyarakat.

“Kami mengucapkan terima kasih, dan titip pendidikan karakter bagi masyarakat Sleman. Syukur kalau bisa meluber kepada masyarakat yang lebih luas lagi,”ungkap Sri Muslimatun.

Turut hadir pada acara tersebut Dirjen Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama RI, Ainur Rofiq. Ainur menyambut baik Olimiade Kitab Kuning yang digelar oleh Pemkab Sleman tersebut.

Baca Juga :  Beri Kado Natal Ala Jaman Now, Ini Dia Pilihannya

Ia juga mengapresiasi Pemkab Sleman yang memberikan perhatian khusus terhadap keberadaan pondok pesantren di Kabupaten Sleman.

Lebih lanjut Ainur menjelaskan bahwa pondok pesantren pada dasarnya adalah lembaga pendidikan masyarakat. Pondok pesantren, lanjutnya, merupakan lembaga pendidikan non formal yang didirikan oleh masyarakat setempat. Maka menurutnya sangat tepat ketika pemda memberikan anggarannya untuk kegiatan pondok pesantren.

“Yang mendirikan pesantren itu ya masyarakat di wilayah itu. Artinya, pondok pesantren adalah lembaga pendidikan masyarakat. Pondok pesantren itu tidak ada yang negeri, semuanya swasta dan non formal. Jadi sangat pas ketika Kabupaten Sleman melalui APBD nya memberdayakan FORSIPP,” kata Ainur.

Ainur juga mengatakan bahwa Olimpiade Kitab Kuning yang diadakan oleh Pemkab Sleman tersebut merupakan yang pertama di Indonesia.

Baca Juga :  Ingat, Panwas Harus Menjaga Profesionalitas

Ia menjelaskan bahwa selama ini kegiatan serupa yang lebih popular di kalangan pondok  adalah Musabaqoh Tilawatil Kutub (MTK) dibawah naungan Kementerian Agama RI.

“Ini baru pertama saya menghadiri acara Olimpiade Kitab Kuning. Kegiatan ini kalau istilah kami MTK, Musabaqoh Tilawatil Kutub. Makanya ini berbeda. Dan apalagi setelah saya lihat, ternyata penganggarannya dari Pemerintah Daerah. Ini sangat pas,” ucapnya.

Ada sebanyak 155 santri yang turut serta dalam Olimpiade Kitab Kuning tersebut. Meraka berasal dari 20 ponpes yang ada di Kabupaten Sleman. Kegiatan ini digelar selama satu hari dengan melibatkan 14 dewan juri. (SM)