Hanya Gara-gara Rupiah Goa Pindul Bermasalah

6453
Wisatawan antre di mulut Goa Pindul saat hendak menyusuri sungai bawah tanah. Karena rupiah, pengelolaan obyek wisata ini memunculkan masalah. (st aryono/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Meski memiliki luas wilayah hampir separo DIY, tetapi Kabupaten Gunungkidul kurang menguntungkan apabila dilihat dari kondisi daerahnya. Selain kering juga tanahnya tidak subur, sehingga memacu penduduknya untuk berjuang keras mengolah lahan pertanian dengan sistem tadah hujan.

Tetapi di balik itu semua, ternyata bumi Handayani ini banyak menyimpan potensi yang tidak ditemukan pada daerah lain, diantaranya kawasan karst dengan berbagai goa dan sumber air bawah tanah, salah satunya Goa Pindul.

Hanya saja, dilihat sejarahnya, keberadaan Goa Pindul memang sudah diawali berbagai masalah. Konon, Goa Pindul berawal dari kisah perjalanan Ki Juru Mertani dan Ki Ageng Pemanahan yang dutus oleh Panembatan Senopati di Mataram untuk membunuh bayi laki-laki buah cinta putri Panembahan Senopati yaitu Mangir Wonoboyo dari Mangiran, Bantul.

Dalam perjalanannya, kedua abdi itu sepakat untuk tidak membunuh sang bayi, keduanya lalu pergi kearah timur  menuju arah Gunungkidul, hingga sampai di suatu wilayah Karangmojo.

Di tempat ini keduanya menggelar tikar sebagai alas tempat tidur bekas persalinan sang bayi,  kemudian menguburnya yang akhirnya daerah itu dinamakan Dusun Gelaran masuk wilayah Desa Bejiharjo Kecamatan Karangmojo, hingga sekarang.

Saat itu bayi terus saja menangis. Kedua utusan itu memutuskan untuk memandikan bayi. Ki Juru Mertani naik kesalahsatu bukit dan menginjak tanah di puncak bukit, dengan kesaktiannya, tanah yang diinjak runtuh menjadi lubang besar menganga membentuk goa dengan aliran air di bawahnya.

Kemudian bayi dibawa turun dan dimandikan di dalam goa itu. Saat dimandikan, pipi bayi terbentur, yang dalam Bahasa Jawa disebut kebendhul batu yang ada didalam. Karena peristiwa itu, akhirnya goa itu dinamakan Goa Pindul.

Terlepas dari percaya atau tidak kisah itu, tetapi Goa Pindul yang berada di wilayah Dusun Gelaran tetap menyimpan misteri. Aliran sungai yang jernih di bawah goa, selama puluhan tahun hanya dimanfaatkan masyarakat setempat untuk mengairi lahan pertanian.

Namun selaras dengan berbagai terobosan yang dilakukan pemkab Gunungkidul untuk mensejahterakan masyarakatnya, Goa Pindul tidak hanya mengairi lahan pertanian, tetapi kini menjadi tempat wisata minat khusus yang banyak diminati wisatawan.

Rupiah picu masalah

Ada gula ada semut. Tampaknya itulah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan munculnya berbagai masalah di Goa Pindul. Ketika Pindul kini sedang banyak gula bahkan madu, maka sederetan semut-semut langsung mendekat. Bergelimang dan melubernya rupiah, secara langsung memicu berbagai pihak untuk bisa “menguasai” Pindul.

Keberadaan Goa Pindul bagian selatan dan barat berbatasan dengan Dusun Gelaran II, sedang bagian timur berbatasan dengan Dusun Gunungbang dan bagian utara berbatasan dengan Dusun Gelaran I, semuanya Desa Bejiharjo Kecamatan Karangmojo.

Persoalan mulai muncul pada pertengahan tahun 2011 ketika Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Taruna Wisata Desa Bejiharjo, bermaksud mengelola lahan milik Atiek Damayanti.

Berbagai masalah terus berlanjut hingga berujung aksi demo, beberapa waktu lalu. Ratusan pemandu wisata Goa Pindul yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dewa Bejo melakukan unjuk rasa di depan kantor BUMDes Bejiharjo, pekan lalu. Demo dilakukan menuntut agar pengurus BUMDes tidak bermain dan bersikap netral dengan merangkul seluruh operator.

Demo ratusan pemandu dengan berjalan dari lokasi destinasi wisata Goa Pindul menuju kantor BUMDes yang terletak di depan Balai Desa Bejiharjo. Massa yang bergerak juga membawa boneka pocong, dupa serta fotokopi sertifikat pemandu yang digunakan sebagai bentuk protes terhadap kebijakan BUMDes yang membiarkan pemandu tak bersertifikat beroperasi di Pindul.

Koordinator aksi yang juga Ketua Pokdarwis Dewa Bejo, Bagya, mengatakan ada beberapa tuntutan yang disuarakan oleh pendemo. Salah satunya meminta agar BUMDes bersikap netral dan ikut bermain dalam penyelenggaraan jasa wisata Pindul.

Menurut dia, bentuk ketidaknetralan ini dapat dilihat dengan adanya pembiaran terhadap beroperasinya pemandu yang tak bersertifikat.

Sebagai obyek wisata minat khusus, kata Bagya, pemandu Pindul harus memiliki sertifikat. Namun faktanya, sekarang ada pemandu yang tak memiliki sertifikat tetap beroperasi dan BUMDes terkesan melakukan pembiaran.

“Sikap yang seperti ini tidak bisa kami terima karena terkesan tidak netral dan malah ikut bermain di dalamnya,” ujar Bagya. Menurut dia, sikap seperti ini tidak bisa dibiarkan karena BUMDes seharusnya merangkul semua pihak dengan tidak membeda-bedakan satu dengan yang lainnya.

Terlebih lagi dalam proses pencarian sertifikat pemanduan tidaklah mudah karena harus melalui proses yang panjang dengan melibatkan tim dari Kementerian Pariwisata. “SOP-nya kan sudah jelas. Jadi itu harus dipatuhi,” tegasnya.

Selain meminta ketegasan terkait kepemilikan sertifikat pemanduan, Bagya juga meminta kepada BUMDes agar para perintis wisata Goa Pindul ikut diperhatikan.

Selama ini ada kesan ditinggalkan, meski pada prosesnya kelompok perintis memiliki peran yang besar dalam pengembangan Pindul. “Jadi jangan dibiarkan, tapi juga harus ikut diberdayakan,” katanya.

Netral

Sementara itu, Direktur BUMDes Bejiharjo, Saryanto menegaskan pihaknya tidak ikut bermain dan tetap netral dengan mengakomodir seluruh operator yang ada di Pindul. Sebagai buktinya, lanjut dia, para pengurus sudah bekerja sesuai dengan standardisasi kinerja yang ada.

Mengenai tuntutan para pendemo, ia meminta waktu untuk melakukan tindak lanjut. “Yang dipermasalahkan mengenai sertifikasi pemanduan. Untuk sekarang kami masih melakukan pendataan, nanti setelah semua terkumpul baru akan dibahas bersama-sama,” katanya.

Menurut Saryanto untuk masalah pemandu yang belum bersertifikat memberika alternatif dengan cara tandem. Yakni, saat jasa pemanduan berlangsung, beberapa pemandu yang belum bersertifikat diawasi oleh pemandu yang memiliki sertifikat pemanduan. “Ini hanya solusi sementara, tapi ke depannya pemandu harus memiliki sertifikat sendiri-sendiri,” tambahnya.

Bola panas sudah ditendang. Berbagai masalah dan tuntutan juga sudah jelas. Masyarakat kini masih terus menunggu bagaimana akhir permainan ini. Bupati Gunungkidul, Badingah berharap semua pihak untuk berpikir jernih dan berbagai masalah diselesaikan dengan baik.

“Goa Pindul sudah menjadi milik masyarakat Gunungkidul, Kami berharap masalah yang ada segera diselesaikan dengan baik,” pintanya. Semoga harapan bupati dan masyarakat Gunungkidul ini terkabul. (sol)