Harga Bawang Merah Jatuh di Titik Terendah

323
Panen bawang merah di Bulak Srikayangan Desa Srikayangan Kecamatan Sentolo Kulonprogo. Komoditas ini harganya jatuh di titik terendah. (sri widodo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID –  Para petani Bulak Srikayangan Desa Srikayangan Kecamatan Sentolo Kulonprogo mengeluhkan harga bawang merah yang jatuh di titik terendah. Padahal saat ini sedang musim panen.

Kepala Dinas Pertanian DIY, Sasongko,  mengungkapkan produk hortikultura termasuk bawang merah seringi menghadapi persoalan harga karena sifatnya musiman. Saat panen serentak maka harga akan turun karena pasokan melimpah sedangkan konsumennya tetap.

Menyiasati kondisi itu, pihaknya berharap ada inovasi dari petani dengan melakukan tunda jual. Hasil panen disimpan terlebih dulu dan baru dilepas saat harga bagus. Selanjutnya, sebagian hasil produksi bisa dilakukan pengolahan pengawetan. Ini karena kebutuhan bawang merah olahan cukup banyak.

Petani juga diharapkan tidak menjual sendiri-sendiri tapi berkelompok, sehingga harga ditentukan dalam satu pintu.

“Kami juga mengimbau tidak semua dijual, bisa dikelola dan disimpan untuk benih persiapan musim tanam berikutnya. Jangan sampai pada saat masa tanam berikutnya kesulitan benih atau harga benihnya relatif mahal. Kalau bisa menyiapkan benih sendiri tentu akan lebih murah,” katanya, awal pekan ini.

Baca Juga :  Jonan : Sepintas Peminat Premium Rendah

Terkait permasalahan modal pinjaman, pihaknya  berencana berkoordinasi dengan Bank Indonesia agar skema pinjaman lebih berpihak pada petani, agar jatuh temponya agak panjang, sehingga petani mempunyai waktu untuk tunda jual.

Kepala Desa Srikayangan, Aris Puryanto, mengatakan harga jual bawang merah di tingkat petani saat ini lebih rendah dibanding tahun lalu. Salah satu faktor penyebabnya karena bersamaan dengan bulan Sura yang dihindari masyarakat untuk hajatan sehingga permintaan bawang merah juga menurun. Harga bawang merah di pasaran saat ini berada pada kisaran Rp 10 ribu per kilogram.

Harga yang rendah tersebut kurang menguntungkan  petani. Aris menyebut, modal yang harus dikeluarkan  petani untuk 1.000 meter persegi bawang merah sekitar Rp 12 juta.

Pada musim panen kali ini hasil yang diperoleh dari luasan lahan itu hanya sekitar Rp 15 juta. Sehingga hanya mendapat keuntungan sekitar Rp 3 juta per 1.000 m2.

Baca Juga :  Asmara Dua Sejoli Ini Berujung Tragedi Memilukan

“Jadi kalau petani sekali saja gagal panen, kerugian baru bisa ditutup keuntungan dari empat sampai lima kali musim tanam,” kata Aris.

Dengan kondisi harga jual saat ini, hasil yang didapat petani terpaut cukup jauh bila dibanding tahun lalu. Saat ini, untuk 1.000 m2 petani hanya bisa mendapat hasil Rp 15 juta, sedangkan tahun lalu bisa mencapai Rp 20 juta hingga Rp 30 juta.

“Untuk tunda jual para petani juga terkendala jatuh tempo pembayaran pinjaman modal dari bank, sehingga harus segera menjual hasil panennya,” kata dia.

Wakil Bupati Kulonprogo, Sutedjo, mengapresiasi para petani bawang merah yang sudah kesekian kali menunjukkan kinerja yang bagus, tahun ini produksinya juga bisa berhasil baik.

Menurutnya, Srikayangan merupakan sentra bawang merah di Kulonprogo dan akan terus dikembangkan. Tahun ini luas panenan bawang merah di Kulonprogo 550 hektar. (sol)