Harga Sembako Relatif Normal

BPPOM DIY Nyatakan Ikan Teri Nasi di Pasar Beringharjo Kandung Formalin

83
Wakil Bupati Sleman Dra Hj Sri Muslimatun MKes turun ke pasar bersama jajaran BPPOM serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sleman. (istimewa)

KORANBERNAS.ID — Menjelang lebaran Idul Fitri 1439 Hijriyah harga sembako stabil dan relatif normal. Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Sleman Dra Hj Sri Muslimatun MKes, Kamis (07/06/2018).

Di sela-sela melakukan pantauan harga sembako dan makanan mengandung bahan berbahaya bersama  Badan Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPPOM) dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sleman di Pasar Gentan Sardonoharjo Ngaglik Sleman, dia menyampaikan hanya beberapa bahan sembako yang mengalami kenaikan harga.

“Seperti  beras naik sebesar 0,68 persen, cabai merah keriting naik 4,51 persen, daging ayam kampung naik 1,72 persen,” ungkapnya.

Sri Muslimatun mengatakan kenaikan tersebut masih dalam batas wajar dan terkendali dikarenakan tingkat kenaikan belum mencapai 10 persen.

Beberapa bahan sembako stabil dan ada yang mengalami penurunan seperti telur turun kisaran harga Rp 20.000. “Gula,  minyak goring, tepung terigu, daging sapi tidak naik,” kata Sri Muslimatun.

Baca Juga :  Pemkab Dirikan 13 Posko Pengungsian

Malalui pemantauan diharapkan harga bahan sembako terkendali dan jika ditemukan menggunakan bahan berbahaya bisa terpantau. “Hal ini menjamin agar bahan makanan yang dikonsumsi aman,” kata dia.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Tri Endah Yitnani mengatakan menjelang leberan stok sembako maupun elpiji aman.

Kenaikan harga dikarenakan permintaan yang tinggi, namun pihaknya dapat menjamin stok tercukupi hingga menjelang lebaran. Jika harga sudah melewati 10 persen akan dilakukan tindakan ke sumber-sumber bahan sembako.

Kepala Badan Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPPOM) DIY Dra Sandra Linthin mengatakan masih ditemukan produk makanan berbahaya seperti formalin dan Rhodamin B di pasar tradisional.

“Ikan teri nasi dari Pasar Beringharjo mengandung formalin, cucur, dan kerupuk sermier ketela merah mengandung rodamin diperoleh dari Kulonprogo,” kata Sandra.

Baca Juga :  Siswa Sekolah Ini Dilatih agar Tidak Jadi Korban Bencana

Sandra mengatakan makanan yang mengandung bahan berbahaya tersebut bukan berasal dari Pasar Gentan dan pedagang mendapatkan produk tersebut dari sales.

“Pedagang pasar Gentan hanya menjual, semua bahan berbahaya yang didapati berasal dari luar pasar,” tambahnya.

Dari temuan tersebut selanjutkan BBPOM dan petugas pasar akan terus memantau sales-sales yang membawa ikan teri  hingga mengetahui produsen awalnya.

Selanjutkan  produk yang ditemukan terindikasi bahan berbahaya akan ditarik dan pedagang akan diberikan peringatan dan penyuluhan tentang produk yang mengandung bahan berbahaya. (sol)