Hari BPRS Nasional Ditetapkan Bersamaan dengan Nuzulul Quran

128
Ahmad Soekro Tratmono, memukul gong sebagai peresmian Hari BPRS Indonsia, Sabtu (02/06/2018) malam. (Surya Mega/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID—Setelah 26 sejak pertama kali mulai beroperasi, Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) akhirnya menetapkan tanggal 17 Ramadan 2018 atau bertepatan dengan 2 Juni 2018 sebagai Hari BPRS Indonesia.  Penetapan dilakukan oleh Kepala Departemen Perbankan Syariah OJK Ahmad Soekro Tratmono dalam acara Tasyakuran Hari BPRS Nasional di Yogyakarta. Ikut menyaksikan, Ketua Kompartemen BPRS Asbisindo Cahyi Kartiko dan para pejabat terkait.

Menurut Cahyo Kartiko, kegiatan di Yogyakarta ini hanyalah seremoni. Sebab penetapan Hari BPRS Indonesia, sudah dilakukan saat Rapat Kerja Nasional Kompartemen BPRS Asbisindo di Bandung Desember 2017. Penetapan ini didasarkan pada saat terbentuknya Asbisindo (Asosiasi Bank Syariah Indonesia), yang digagas oleh 5 BPRS di Bandung 31 Maret 1992, yang juga bertepatan dengan 17 Ramadan 1412 H.

Cahyo Kartiko mengatakan, sebagai industri yang baru berkembang, BPRS perlu mendapat berbagai insentif baik intemal maupun eksternal.

“Kami perlu membangun awarness lebih agar masyarakat lebih mengenal BPRS sebagai lembaga keuangan mikro syariah yang turut membangun perekonomian nasional terutama yang berbasis dan menerapkan prinsip-prinsip ekonomi syariah,” katanya.

Baca Juga :  Glory 580 Mengaspal di Jogja

Menurut Cahyo, perjuangan dalam mengembangkan ekonomi syariah tidak mudah. Selain masih banyaknya kekurangan dalam sisi permodalan, sumber daya insani atau SDM, juga masih menghadapi tantangan dalam hal IT dan pengembangan produk.

“Toh demikian, Alhamdulillah hingga Februari 2018 lalu, data di statistik perbankan syariah kita tetap mampu tumbuh dengan baik. Sedangkan sebagian besar pelaku di industri ini merasakan pelambatan,” lanjutnya.

AhKartiko berfoto bersama dengan pengurus BPRS dan Asbisindo. (Surya Mega/koranbernas.id)

Ahmad Soekro Tratmono mengatakan, potensi pengembangan ekonomi syariah, termasuk di dalamnya lembaga-lembaga pembiayaan sangatlah besar. Industri BPR Syariah sejak tahun 1988 terus mengalami pertumbuhan pesat, dan perbankan syariah makin berkibar sejak lahirnya UU Perbankan Syariah.

“Pertumbuhan perbankan syariah, selalu lebih tinggi dibandingkan konvensional. Ini patut kita syukuri, kendati secara pangsa pasar kita masih kecil disbanding konvensional,” imbuhnya.

OJK, kata Soekro akan terus mendorong BPRS agar tumbuh makin cepat sekaligus tumbuh sehat dengan memberikan pembiayaan berkualitas untuk para pelaku ekonomi kecil.

“Potensinya masih sangat besar. Selain warga muslim kita terbesar di dunia, perkembangan food industry juga menjadi bukti besarnya pasar syariah di Indonesia,” katanya.

Baca Juga :  Ini Dia, Kesempatan Pengguna Instagram Menginap di Royal Ambarrukmo

untuk itu, Soekro berpesan agar perbankan syariah khususnya BPRS terus mengembangkan produk dan pelayanan yang semakin baik. Mereka juga diminta untuk serius mengembangkan IT agar operasional semakin efisien.

Ketua DPW Asbisindo DIY, Edi Sunarto mengungkapkan, kegiatan tasyakuran di Yogyakarta ini, diikuti oleh seluruh karyawan BPRS di DIY, utusan atau perwakilan dari tiap DPW Asbisindo se-Indonesia dan Pengurus DPP Kompartemen BPRS Asbisindo. Ikut hadir juga Ketua OJK DIY Untung Nugroho.

Dalam acara itu, dilakukan penyerahan penghargaan kepada Alm H waris Sucipta dan Alm Tri Hari Wijayanto yang berjasa besar mengembangkan BPRS dan organisasi Asbisindo. Juga dilakukan prosesi menulis lembaran ayat suci Alqur’an  30 juz yang dilakukan oleh seluruh peserta yang hadir. Ini sebagai pesan dari kegiatan ini adalah setiap insan pelaku BPRS harus mau memahami panduan hidup Alqur”an sebagai dasar untuk mencapai kesuksesan. Baik dalam pengelolaan BPRS maupun dalam hidup keseharian.(SM)