Hasto Duduk Bersila dan Lepaskan Anak Panah

424
Bupati Hasto Wardoyo membidik sasaran dan melepaskan anak panah. (sri widodo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Mengenakan busana Jawa dan berkacamata hitam, Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo duduk bersila, kemudian melepaskan anak panah ke sasaran.

Dia bukan sedang beraksi melainkan benar-benar memanah menandai pembukaan event Gladhen Hageng Jemparingan Mataraman Tingkat Nasional Tahun 2017 dalam rangka Hari Jadi ke-66 Kabupaten Kulonprogo, di Alun-alun Wates, Minggu (22/10/2017).

Sebanyak 425 pemanah dari berbagai paguyuban ikut dalam Lomba Panahan Tradisional Gaya Mataraman bertajuk Gladhen Hageng Jemparingan Mataraman ini. Peserta datang dari berbagai provinsi di Indonesia seperti dari Jateng, Jatim, Jabar, DIY dan Bali.

Menurut Ketua Penyelenggara Gladhen Hageng Jemparingan Mataraman tingkat Nasional, Joko Mursita, event ini merupakan puncak kegiatan Jemparingan di Kabupaten Kulonprogo.

Beberapa hari sebelumnya dilaksanakan  Kongres Jemparingan Nusantara dan Pencanangan Kampung Jemparingan Nusantara.

Joko Mursita mengatakan, kegiatan ini juga sebagai ajang silaturahmi dan mempererat persaudaraan di antara paguyuban Jemparingan di Indonesia khususnya di Pulau Jawa dan Bali.

Saat mengikuti jemparingan, pemanah tidak berdiri namun duduk bersila atau kedua kaki dilipat. Semua peserta jemparingan baik anak-anak dan orang dewasa, laki-laki atau perempuan harus mengenakan busana adat Jawa, ikat kepala atau blangkon, serta keris bagi laki-laki.

Hasto Wardoyo mengatakan, kegiatan Gladhen Hageng​​ Jemparingan Gaya Mataraman ini, diharapkan tidak hanya untuk melestarikan warisan budaya atau nguri-uri budaya yang berkepribadian nusantara saja, namun bisa juga untuk olahraga fisik dan melatih konsentrasi.

Pemerintah Kabupaten Kulonprogo saat ini juga sedang menyiapkan dan menggalakkan Pendidikan Karakter di lingkungan siswa SD dan SMP. Bedasarkan Perda, menurut rencana akan diberlakukan awal 2018.

“Salah satu isi dari Perda tersebut yang diatur dalam Perbup yaitu memuat kegiatan ekstra kurikuler atau kurikulum muatan lokal tentang Jemparingan Mataraman atau Jemparingan Nusantara yang dilaksanakan di sekolah-sekolah.” ujar Hasto. (sol)