Homestay Tidak Cuma Jual Kamar

181
Pertemuan rutin Forum Komunikasi (Forkom) Pokdarwis/Desa Wisata di Goa Selarong, Kamis (29/03/2018) diisi dengan pemberian hadiah bagi pemenang lomba desa wisata 2018. (sari wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Para pengelola homestay di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diharapkan jangan hanya menjual kamar ke wisatawan yang menginap. Jika itu dilakukan bisa menyebabkan homestay tidak laris mengingat wisatawan menginginkan sesuatu yang lain ketika menginap.

“Ada cerita seorang pengelola homestay menyediakan kamar lengkap dengan  pendingin udara, air panas, televisi dan perlengkapan lain ternyata setahun hanya laku dua kali,” kata  Ir Doto Yogantono, Ketua Forum Homestay DIY pada acara pertemuan rutin Forkom Pokdarwis/Desa Wisata di Goa Selarong Desa Guwosari Pajangan Bantul,  Kamis (29/03/2018).

Acara yang diisi dengan penyerahan hadiah lomba homestay tingkat Kabupaten Bantul tersebut dihadiri Kabid Pengembangan Kapasitas dan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata (Dinpar) Bantul, Antoni Hutagaol ST MT, Camat Pajangan Drs Sambudi Riyanto, Sotya Sasongko S Sos Msc dari Puspar UGM serta anggota Forkom Pokdarwis/Desa Wisata se-Bantul.

“Tetapi, kita  membuat bagaimana homestay itu memiliki karakter. Misalnya didominasi bambu, tanaman hias dan kartakter lain,” katanya.

Atraksi wisata

Selain itu di lokasi homestay harus ada obyek ataupun atraksi wisata. Sekiranya tidak ada obyek, maka bisa dibuat atraksi wisata. Tidak perlu yang rumit  atau susah-susah, yang sederhana saja.

“Misalnya saya di Bali pernah tahu, atraksinya menyusuri sawah dengan biaya Rp 15.000. Ternyata dalam setahun berhasil membukukan pendapatan Rp 3,2 miliar dari atraksi itu saja. Separo untuk keperluan merti dusun dan separo untuk desa wisata tersebut,” paparnya.

Artinya, pengelola homestay harus sadar wisatawan ingin belajar sesuatu yang baru dan hal yang baru pula. Perlu ada nilai pembelajaran di sana, termasuk bagaimana mereka mendapat keluarga baru. “Jadi bukan semata-mata hanya menginap dan jual kamar saja,” katanya.

Para pengelola desa wisata  juga perlu mengawali  penyambutan tamu dengan tarian atau atraksi budaya saat mereka datang atau turun dari bus. “Pasti wisatawan ini akan merasa senang ketika itu kita lakukan,” katanya.

Wisatawan rata-rata membutuhkan oleh-oleh kas yang bisa dibawa termasuk juga hiburan. “Nanti dalam mengelola desa wisata dan homestay ini bisa dibuatkan paketnya,” kata Doto.

Di Malaysia, ujarnya mencontohkan, sudah dibuat desa wisata sejak 1995 silam. ”Di sana desa wisatanya maju. Saya lihat homestay dan desa wisatanya tidak lebih bagus dari kita, Cuma mereka bagus dan banyak paket wisatanya,” katanya.

Sementara itu Antoni mengatakan pengelolaan pariwisata butuh inovasi yang harus dilakukan terus menerus. “Pokoke inovasi selalu. Bantul pasti bisa,” katanya. (sol)