Hujan Turun, Petani Jangan Terkecoh

268
Toko di Wonosari dipadati petani untuk membeli benih pertanian, Kamis (28/09/2017). (st aryono/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID —Hujan deras mulai menguyur di beberapa wilayah Gunungkidul. Kondisi ini membuat petani terkecoh dan mulai bercocok tanam.

“Padahal sekarang ini belum masuk musim penghujan. Justru sekarang ini puncak kemarau, sehingga kami harap petani tidak terkecoh. Hujan yang turun intensitasnya masih sangat kecil dan tidak mampu menghidupi tanaman,” kata Bambang Wisnu Broto Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Kamis (28/09/2017).

Dijelaskan, akhir Seprtember bukan berarti tanda memasuki musim penghujan. Akan tetapi sebaliknya bulan ini merupakan puncaknya kemarau.

Kepada petani, dia menyarankan supaya konsentrasi menyiapkan lahan saja. Dari pemerintah juga sudah menyiapkan pupuk bersubsidi dan benih.

Di bagian lain, antusiasme petani di Gunungkidul menyambut hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir cukup tinggi.

Toko pertanian ramai didatangi warga. Mereka berburu benih dan pupuk untuk digunakan pada masa tanam di awal musim hujan.

“Sudah sepekan terakhir ramai didatangi pembeli. Mulai dari pembelian benih padi dan jagung,” kata Lastri penjaga toko pertanian di Pasar Argosari, Wonosari.

Menurutnya, hujan turun merata di sejumlah wilayah kecamatan menjadi menjadi angin segar bagi petani. Musim pancaroba menjadi pertimbangan bagi petani untuk persiapan mencari benih untuk ditanam.

“Untuk jagung yang dibeli paling banyak adalah jenis Bisi 2. Sementara padi, jenis IR64 dan juga Siherang,” ungkapnya.

Harga  benih jagung BISI 2, sebesar Rp 55 ribu per kilogram pada hari-hari biasa. Namun diwaktu sekarang bergeser naik menjadi Rp 60 ribu per kilogram. (SM)