Humas Harus Simpan Rahasia, Jika Bocor Berbahaya

283
Iva Ariani berbagi pengalaman pada Pelatihan Digital Public Relations bertema Penyebarluasan Informasi Pemerintahan dan Pembangunan dengan Baik dan Benar melalui Media Sosial, Selasa (20/02/2018), di Gedung Unit 8 Komplek Kepatihan. (sholihul hadi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Menjadi humas atau hubungan masyarakat adalah pekerjaan yang tidak mudah. Selain setidak-tidaknya memiliki bakat seni, mereka juga harus bisa menyimpan rahasia instansinya berupa informasi-informasi yang bukan untuk konsumsi publik. Artinya, jika informasi itu bocor maka dampaknya bisa berbahaya mempengaruhi citra institusi maupun pemerintahan.

“Jadi humas itu tidak mudah. Saya pegang seluruh rahasia UGM, tidak akan saya ceritakan kepada siapa pun termasuk suami saya,” ungkap Iva Ariani, Kepala Bagian Humas dan Protokol UGM, Selasa (20/02/2018).

Menyampaikan pengalamannya pada Pelatihan Digital Public Relations bertema Penyebarluasan Informasi Pemerintahan dan Pembangunan dengan Baik dan Benar melalui Media Sosial, Selasa (20/02/2018), di Gedung Unit 8 Komplek Kantor Gubernur DIY Kepatihan, Iva menyatakan humas juga harus berstamina tinggi.

Syarat lainnya adalah memiliki ingatan kuat, sopan, tenang, mengerti psikologi manusia serta mampu belajar atau bereaksi cepat. Satu lagi yang tidak boleh diabaikan yakni kreativitas.

Di hadapan 45 peserta berasal dari Biro di lingkungan Setda DIY, Dinas di lingkungan Pemda DIY, Inspektorat, Badan, Sekwan di lingkungan Pemda DIY, UPTD di lingkungan Pemda DIY dan media massa lokal, panjang lebar dosen Fakultas Filsafat itu menjelaskan pentingnya humas mengelola informasi di era digital yang seolah-olah mencengkeram kehidupan.

Melalui kegiatan yang diselenggarakan Seksi Penyiapan Informasi Kebijakan (PIK) Pemerintah Daerah Bidang Humas Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) DIY kali ini, dia berpesan humas harus bisa menangkap banyak informasi. Ini penting untuk pemetaan (maping) sekaligus sebagai bahan menyusun strategi penyampaian informasi supaya efektif dan tepat sasaran.

“Humas pemerintah harus mampu membangun dan membina hubungan baik dengan pemangku kepentingan internal dan eksternal, mampu membangun dan mengelola jejaring kemitraan dengan lembaga lain,” paparnya.

Dalam pengantarnya, Amiarsi Harwani menyampaikan berdasarkan pengalamannya selama ini, humas itu seni yang secara teori bisa dipelajari, akan tetapi apabila tidak punya bakat seni maka agak sukar.

Dia sepakat humas memiliki posisi penting sebab Daerah Istimewa Yogyakarta sudah mencanangkan diri sebagai cyber province. Menghadapi tantangan sangat cepatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, mau tidak mau humas tidak boleh ketinggalan.

Di era saat ini, humas merupakan ujung tombak dari suatu lembaga pemerintahan yang dapat menjembatani arus informasi dari pemerintah ke masyarakat dan pemangku kepentingan yang lain atau sebaliknya, sekaligus sebagai upaya membangun citra pemerintah di mata masyarakat.

Perwujudan nyata dari kinerja humas antara lain tercermin dari penyelenggaraan pelayanan publik, menyampaikan informasi yang benar, merencanakan image building yang baik  dengan menggunakan bahasa dan cara yang tepat, efektif dan positif, transparan sesuai dengan perkembangan teknologi terkini.

Selain itu, humas punya tugas memastikan pesan-pesan yang disampaikan benar-benar dipahami oleh pemangku kepentingan dan masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip batasan moral, norma dan budaya yang  berlaku di masyarakat.

Kasi PIK Pemerintah Daerah, Bidang Humas Diskominfo DIY, R Ali Sadikin, menambahkan maksud diselenggarakannya Pelatihan Digital Public Relations ini untuk meningkatkan peran dan fungsi instasni pemerintah daerah khususnya Bidang Humas Diskominfo DIY guna mensolisasikan kebijakan pemerintah dan pembangunan.

Apabila para peserta sudah mengerti dan memahami penyebarluasan informasi pemerintahan dengan baik dan benar melalui media digital, diharapkan mereka akan mengimplementasikan di instansinya masing-masing secara jelas, lengkap dan terperinci. (sol)