IDOLA Sederhanakan Layanan Administrasi Kependudukan di Sleman

138
Suasana layanan di Dukcapil Kabupaten Sleman. (istimewa)

KORANBERNAS.ID–Pemerintah Kabupaten Sleman terus mensosialisasikan pentingnya kesadaran tertib administrasi kependudukan bagi masyarakat. Guna mendukung upaya tersebut, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) menerbitkan inovasi dalam pelayanan administrasi kepedudukan.

Inovasi tersebut adalah Integrasi Dokumen Layanan Kependudukan (IDOLA). Inovasi ini merupakan bentuk penyederhanaan mekanisme dan syarat administrasi kependudukan, sesuai dengan Peraturan Bupati nomor 39 tahun 2017.

Kepala Dukcapil Sleman, Jazim Sumirat di kantornya, Rabu (12/09/2018) menjelaskan bahwa inovasi IDOLA ini dalam implementasinya yaitu mengintegrasikan seluruh pemutakhiran data kependudukan melalui satu paket layanan.

Dia mencontohkan, dalam peristiwa kelahiran, secara otomatis semua dokumen kependudukan akan berubah seperti kartu keluarga, akte kelahiran , juga ada hak anak yaitu Kartu Identitas Anak (KIA).

“Melalui inovasi IDOLA ini akan dilakukan pemutakhiran seluruh dokumen kependudukan ini dengan layanan terpadu,” papar Jazim.

Implementasi inovasi IDOLA ini juga dilakukan untuk setiap adanya peristiwa-peristiwa penting lainnya yang diperlukan adanya pemutakhiran dokumen kependudukan. Seperti halnya perkawinan, perpindahan atau pergantian alamat tinggal atau bahkan perceraian.

Baca Juga :  Aji Minta Staf MGM Punya Obsesi Tinggi

Selain itu, sebagai upaya pembangunan komitmen, Dukcapil Sleman bersama stakeholder dalam sinergitas pelayanan administrasi kependudukan, diintegrasikan pelayanan akta kelahiran dengan RSUD Sleman dan RSUD Prambanan.

Dengan demikian, masyarakat yang melahirkan diberikan opsi untuk dilakukan pelayanan akta kelahiran secara langsung di kedua Rumah Sakit tersebut. Secara otomatis dilakukan pemutakhiran data kendudukan lainnya secara terpadu.

Dukcapil juga mengenalkan layanan Keluarga Duka Desa Siaga (LUKADESI) yaitu inovasi yang berkaitan dengan peristiwa kematian. Melalui program ini pemkab  mengoptimalkan data kematian dengan mengintegrasikan data secara berjenjang (Dukcapil dengan Desa). Artinya bahwa dalam setiap peristiwa kematian, setiap desa bisa secara langsung melakukan input data atau membuat surat keterangan kematian.

Data dari desa inilah yang nantinya akan diterima langsung oleh Dukcapil yang kemudian menjadi landasan untuk menerbitkan akte kematian. Sehingga saat proses pemakaman keluarga sudah bisa mendapatkan akte kematian tidak lagi hanya surat keterangan kematian.

Baca Juga :  Khitanan Massal, Ingat Pohon Jambu

“Oleh karena itu, kami lakukan perekrutan petugas desa sebagai petugas registrasi. Sehingga apabila ada kematian, petugas bisa segera menginput data sehingga proses pembuatan akta bisa segera dilakukan melalui mekanisme yang ada,” jelas Jazim.

Program selanjutnya yaitu Inovasi Tertib Aministrasi Kependudukan atau Paman Timin.

Inovasi Paman Timin ini dilaksanakan dalam bentuk monitoring dan evaluasi penyelenggaraan pelayanan administrasi kependudukan. Dalam hal ini Dukcapil  melakukan evaluasi untuk melihat bagaimana penyelenggaraan administrasi kependudukan di masing-masing kecamatan hingga desa.

Menurut Jazim, saat ini masih banyak penduduk di wilayah Kabupaten Sleman yang masuk dalam kategori (wajib KTP elektronik) belum melakukan perekaman data.

Dukcapil mencatat dari 787.958 wajib KTP, 98,46% telah melakukan perekaman data. Artinya masih terdapat 12.119 wajib KTP yang belum melakukan perekaman data.

Untuk itu masyarakat diimbau untuk segera  melakukan perekaman data dan melakukan pemutakhiran data bagi yang mengalami peristiwa penting. (SM)