Idul Adha Hari Sibuk Pedagang Bumbu

391
Usaha bumbu instan basah di Kadunggalih Pengasih. (sri widodo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Menjelang Hari Raya Idul Adha, bukan hanya para pedagang hewan kurban yang sibuk dan menangguk rezeki. Pedagang bumbu pun ternyata sibuk juga.

Supriastuti (41) warga Kadunggalih Pengasih Kulonprogo ini sejak pekan lalu sibuk mengolah ramuan bumbu instan basah buatannya.

“Awalnya saya beli bahan bumbu-bumbu, kami kupas dan cuci, kemudian kali giling menjadi adonan bumbu dasar,” ujarnya Senin (28/08/2017) di rumahnya.

Bumbu dasar tersebut antara lain bawang merah, bawang putih, lengkuas dan beberapa bahan bumbu lainnya. Setelah jadi bumbu dasar, diberi campuran bahan-bahan lain sesuai jenis masakan yang diinginkan.

“Saya membuat bumbu macam-macam. Misalnya bumbu rendang, gulai, sate, tongseng, rawon dan lainnya,” kata dia.

Menjelang Idul Adha dia menyiapkan dua kuintal bahan bumbu. Untuk satu musim Idul Adha biasanya dia membuat sekitar 5.000 sachet bumbu yang diedarkan pedagang di Kulonprogo dan Purworejo.

Baca Juga :  PDAM Bakal Penuhi Kebutuhan Air NYIA

“Untuk Idul Fitri hanya sekitar 3.000 sachet saja. Dari saya per sachet Rp 5.000. Selanjutnya terserah pedagang mau diecer berapa, itu kewenangan pedagang,” tuturnya.

Dibantu tiga orang perempuan, sejak seminggu sebelum hari H produksi masih berjalan dan biasanya berhenti H plus 3. Bumbu masak yang diberi merek Gubug Ndesa tampaknya disukai orang dan laris manis. Terbukti usaha yang dilakukan sejak 13 tahun lalu itu berjalan mulus.

Dari usahanya tersebut, Bu Tutik, panggilan Supriastuti, yang dulunya hidup ngontrak rumah, sekarang sudah membangun rumah mungil dua lantai dilengkapi dapur produksi yang cukup luas.

Usaha bumbu masak instan basah memang setahun hanya dua kali. Yaitu saat Idul Adha dan Idul Fitri. Sedangkan produksi sehari-hari tidak sebanyak dua hari raya itu.

Baca Juga :  Semoga Bandara Selesai Tepat Waktu

“Keseharian saya membuat berbagai masakan, ada beberapa agen yang menjual masakan saya. Kalau ada orang hajatan pesan bumbu ya saya buatkan, saya menerima pesanan dari mereka,” tuturnya.

Tutik bersyukur usahanya lancar. Ide awalnya berasal dari keluhan ibu-ibu muda yang belum bisa membuat bumbu masak. Kemudian, dia membuatkannya.

“Soal rasa, saya selalu berburu masakan enak. Kemudian saya cari tahu resepnya, dan saya coba membuatnya hingga rasanya enak. Yang penting selain rasa enak, bumbu saya asli rempah rempah. Tidak ada bahan kimia atau pengawet,” kata dia. (wid)