IKM “Zaman Now” Harus “Update” Teknologi

205
Dirjen IKM Gati Wibawaningsih mendapat penjelasan sebagian produk IKM dari Yogyakarta. (istimewa)

KORANBERNAS.ID—Kementerian Perindustrian terus memacu industri kecil dan menengah (IKM), untuk memasarkan produknya di marketplace. Sejalan dengan kebijakan ini, Dirjen IKM telah membuat infrastruktur sarana perluasan pasar e-Smart IKM yang telah dimulai tahun 2017 lalu.

“Menjadi IKM Zaman Now, harus update teknologi. Untuk itu, kami berupaya melakukan edukasi pentingnya teknologi digital, manajemen keuangan yang baik, serta produk yang memenuhi standar. Apalagi saat ini, Indonesia sedang menyiapkan implementasi Industri 4.0, yang nantinya akan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi sepenuhnya dalam proses produksi, untuk mencapai efisiensi maksimal,” kata Dirjen IKM Gati Wibawaningsih, usai penutupan Workhsop e-Smart IKM, Rabu (09/05/2018).

Workshop diselenggarakan selama 2 hari, 8-9 Mei 2018, diikuti  150 pelaku IKM di Jogja dan Magelang. Bekerjasama dengan sejumlah marketplace besar di Indonesia, melalui workshop ini pelaku IKM bukan saja diajari cara berbisnis dengan memanfaatkan teknologi dan marketplace, namun juga mendapatkan materi terkait stratgei pemasaran online, pengembangan produk seperti desain, kualitas dan teknologi. Juga dikenalkan aplikasi pencatatan keuangan dari Bank Indonesia.

“Kami juga menyosialisasikan program restrukturisasi mesin perlaatan dan SNI. Kami ingin, setelah ini, marketplace besar di Indonesia dibanjiri dengan produk-produk IKM lokal dengan kualitas yang baik. Sebab selama ini, marketplace kita, didominasi produk asing,” tandas Gati.

Dijelaskan, e-Smart ini akan menjadi sistem database yang tersaji dalam profil industri, sentra, dan produk yang nantinya akan menjadi salah satu bahan analisa pembuatan kebijakan dalam pembinaan IKM.

“Seperti data kebutuhan bahan baku IKM, peralatan atau teknologi yang dibutuhkan dapat kami ketahui dari database yang telah terhimpun,” lanjutnya.

Sejak diluncurkan 27 Januari 2017, workshop yang sama telah diikuti oleh 1.730 peserta dan membukukan nilai transaksi online lebih dari Rp 320 juta, 75 persennya disumbangkan oleh transaksi produk logam. Tahun ini, pemerintah menargetkan 4.000 IKM di seluruh Indonesia ikut e-Smart sehingga harapannya 12.000 produk IKM masuk dalam marketplace.

Berdasarkan data BPS di DIY, pertumbuhan industri Mikro Kecil (IMK) DIY triwulan IV 2017 terhadap  triwulan IV 2016, menunjukkan pertumbuhan positif di angka 17,28 persen. Kenaikan pertumbuhan produksi di DIY ini jauh melampaui angka pertumbuhan nasional sebesar 4,59 persen.

Sedangkan pertumbuhan produksi Industri Mikro dan Kecil (q-to-q) di Jawa Tengah triwulan I tahun 2018, naik 2,13 persen. Pertumbuhan produksi Industri Mikro dan Kecil (y-on-y) Jawa Tengah triwulan I tahun 2018 naik 2,02 persen. Kelompok industri yang mengalami kenaikan terbesar adalah Industri Karet, Barang dari Karet dan Plastik sebesar 27,19 persen, Industri Peralatan Listrik 24,19 persen serta Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki sebesar 16,13 persen. (*/SM)