Ilmu Sosial Tak Lagi Populer

145
Hermin Indah Wahyuni, Ketua PSSAT UGM (tengah) menyampaikan paparan terkait Symposium on Social Science 2018 dengan tema “Upaya PSSAT UGM Mengkampanyekan Peran Ilmu Sosial ditengah Tantangan Masyarakat Global”di kampus setempat, Senin (03/09/2018).(w asmani/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Ilmu Sosial di Indonesia dianggap sebagai ilmu yang tidak populer dan porsinya sangat dibatasi. Kondisi ini tidak saja terjadi di Indonesia karena kecenderungannya juga terjadi di beberpa negara lainnya. Bahkan di Jepang Ilmu Sosial sudah dihapuskan.

Karenanya perlu refleksi dari para ilmuan sosial untuk menegaskan posisi dan perannya saat ini dan di masa depan. Hal itu penting mengingat tantangan ilmu sosial ditengah perubahan masyarakat yang sangat cepat dan dinamis dalam berbagai dimensi, khususnya yang didorong oleh perkembangan ilmu akaseleratif dan gigantis yang membawa masyarakat pada era transformasi atau disrupsi.

“Perubahan-perubahan yang terjadi menuntut ilmu sosial secara umum dan institusi serta sarjana di bidang ini secara khusus untuk memberikan respon akademis dan praktis sekaligus,” papar Hermin Indah Wahyuni, Ketua Pusat Studi Sosial Asia Tenggara (PSSAT) UGM di kampus setempat, Senin (03/09/2018).

Baca Juga :  Pekan Raya Mahasiswa Pascasarjana Jadi Terobosan Baru

Berangkat dari persoalan itu, PSSAT UGM menggelar  Symposium on Social Science 2018 dengan tema “Upaya PSSAT UGM Mengkampanyekan Peran Ilmu Sosial ditengah Tantangan Masyarakat Global”. Acara yang didukung koranbernas.id ini diselenggarakan 4-5 September 2018 di Balai Senat dan Sekolah Pascasarjana UGM.

Menurut dosen Ilmu Komunikasi UGM tersebut, simposium menghadirkan secara virtual Prof Anthony Giddens, sosiolog asal Eropa untuk menyampaikan keynote speech. Teori-teori Gidden banyak diaplikasikan kedalam kebijakan pemerintahan, terbukti para anggota legislatif Indonesia menggunakan buku-buku referensi karangan Giddens. Sebelumnya PSSAT mengirimkan peneliti PSSAT, Muhadi Sugiono untuk mempelajari teori-teori Anthony Gidden di Eropa pada Juli lalu.

Dalam seminar hari pertama akan hadir ilmuan sosial dari sejumlah negara seperti Indonesia, Jepang, Jerman dan Australia. Selain itu perwakilan Facebook Indonesia yangmenjadi pembicara dalam 3 sesi panel dengan tema “Ilmu Sosial dan Kekuasaan, Ilmu Sosial, Revolusi ICT dan Masa Depan Manusia, dan Masa Depan Ilmu Sosial di Asia Tenggara. Pada hari kedua simposium berlangsung 10 sesi diskusi paralel dengan 33 penyaji makalah.

Baca Juga :  Kulonprogo Terancam Tanggap Darurat Bencana,

Sementara Muhadi menyampaikan Ilmu Sosial tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebab selagi terjadi interaksi sosial berarti masih membutuhkan ilmu tersebut. Apalagi Ilmu Sosial tidak pernah lepas dari kehidupan.

“Selain itu ilmu sosial mempunyai fungsi sebagai dasar kebijakan, atau setidak-tidaknya ilmu sosial bisa berimplikasi pada kebijakan sosial dalam pemerintahan,” tandasnya.(yve)