Imogiri Simpan Potensi Sejarah yang Terpendam

193

KORANBERNAS.ID — Anggota DPRD Kabupaten Bantul, Amir Syarifudin, mengatakan Kecamatan Imogiri punya banyak potensi terpendam yang bisa dikembangkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Salah satunya berupa karya anak bangsa yang layak diapresiasi, yaitu  Istana Penangkaran Burung (IPB) yang digagas oleh seorang putra terbaik Imogiri, Agung Trisnawanto.

“IPB adalah karya anak negeri yang spektakuler. Saya apresiasi dan mendukung agar IPB ini diberi ruang yang mudah untuk pengembangannya,” kata Amir kepada koranbernas.id, pekan lalu.

Misalnya saja, masyarakat diberikan kemudahan mengurus izin pemeliharaan satwa. Lahirnya IPB selain untuk menggenjot kunjungan wisatawan, juga sebagai sarana edukasi bagi pengunjung termasuk anak sekolah, supaya mereka mengenal keragaman burung di seluruh Indonesia.

IPB juga bermanfaat sebagai lokasi tempat belajar dunia burung dengan segala seluk beluknya. Tidak lupa, politisi PKS tersebut berharap warga Imogiri tetap menjaga berbagai peninggalan  sejarahnya, kemudian merawatnya sebagai sebuah jejak perjalanan bangsa.

“Kecamatan Imogiri menjadi Gapura Budaya Keistimewaan DIY. Wisata dan budaya harus dijaga dan dirawat,” katanya.

Predikat tersebut tepat mengingat keberadaan tempat-tempat bersejarah di Imogiri menjadi saksi lahirnya kerajaaan Mataram.

Sebutlah  Makam Raja-raja di Pajimatan yang merupakan kompleks makam Raja-raja Mataram Islam beserta keturunannya, yaitu raja-raja yang bertahta di Kasunanan Surakarta Hadiningrat maupun Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Makam ini dibangun pada 1632 oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo. Konon, Sultan Agung sudah mempersiapkan makam tersebut sebelum dirinya wafat.

“Hal lain yang juga harus memperoleh perhatian adalah pengembangan sektor ekonomi kreatif, wisata edukasi dan wisata religi,” kata anggota Komisi A DPRD Kabupaten Bantul tersebut.

Tidak lupa, Amir mendorong pemerintah agar membuat terminal bus besar di wilayah Girirejo. Terminal ini fungsinya sebagai tempat transit wisatawan yang ingin berkunjung ke wilayah Dlingo.

“Wisata di Kecamatan Dlingo sudah maju namun akses jalan ke sana relatif belum terlalu lebar. Beberapa kali terjadi kecelakaan bus besar di ruas jalan penghubung Imogiri-Dlingo. Maka saya berharap terminal transit berada di wilayah Girirejo Imogiri sebelum akhirnya wisatawan berganti bus berukuran lebih kecil,” kata Amir.

Ini dimaksudkan untuk meningkatkan rasa aman dan nyaman bagi wisatawan. Yang pasti, memberikan manfaat bagi Kecamatan Imogiri. (sol)