Industri Batik Kebumen Alami Pasang Surut

85
Pekerja  menggarap batik  printing identitas sekolah di sebuah  workshop  batik Desa  Gemeksekti Kecamatan Kebumen, Selasa (02/10/2018).  (nanang wh/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Setiap memperingati Hari Batik 2 Oktober, ingatan tertuju pada daerah produsen batik di Kabupaten Kebumen.

Meski mengalami  pasang surut, industri batik rumah tangga di kabupaten itu hingga sekarang masih bertahan terutama di Desa Gemeksekti Kecamatan Kebumen, Desa Jemur Pejagoan dan Desa Seliling Alian.

Salah seorang perajin, Elis Krisnaningsih (36), kepada koranbernas.id, Selasa (02/10/2018), mengatakan industri batik miliknya tidak serta merta ada.

Dia dan keluarganya sekarang merupakan generasi  keempat. Sedangkan masa kejayaan batik Kebumen terjadi pada generasi pertama era 1960-an sampai dasawarsa 1970-an.

Pada dasawarsa 1990-an, usaha batik keluarganya dan pengusaha lain mengalami masa surut.

“Saat dikelola mbah (generasi kedua) saya sempat vakum,“ kata Elis Krisnaningsih, warga Desa Gemeksekti.

lbunya mulai bangkit meneruskan usaha orang tuanya, tahun 1980-an, awalnya hanya beberapa kodi batik cap per pekan  dipasarkan di beberapa pasar di Kebumen.

Baca Juga :  Tinggal Klik, Pembayaran Tagihan Pun Beres

Hingga generasi keempat industri batik bertahan, malahan   berkembang omzetnya.

Ini terjadi karena pemerintah merasa memiliki dan nguri-uri  batik khas daerah pada tahun 2000-an.

Komitmen Pemkab Kebumen untuk mengembangkan industri batik di antaranya menjadikan  batik khas daerah itu sebagai seragam kerja pegawai instansi pemerintah Kebumen yang dipakai pada hari tertentu.

Batik tulis Kebumen, kata  Elis, cukup tinggi peminatnya. Bahkan industri batik tulis yang dia kelola sering kehabisan stok batik tulis di toko batiknya.

Penggemar atau konsumen batik tulis harus menunggu order selama beberapa waktu.

Tidak seimbangnya jumlah permintaan dan produksi batik tulis, karena batik tulis lebih sedikit produksinya dibanding permintaan.

Beberapa event yang membutuhkan suvenir batik tulis harus dipersiapkan jauh hari sebelumnya. Karena dikerjakan ibu rumah tangga di beberapa desa di Pejagoan dan Kebumen, maka produksinya tidak besar. “Membatik itu pekerjaan sambilan. Mereka mengerjakan di rumah,“ ungkapnya.

Baca Juga :  Berburu Kuliner Zaman Sunan Giri di Bantul

Pembatik tulis di tempatnya ada 30 orang. “Banyak, tapi  belum mampu memenuhi permintaan batik tulis,“ kata Elis Krisnaningsih.

Ada keinginan industri padat karya tersebut dipusatkan di workshop miliknya. Kendalanya, mereka kerja borongan dan sambilan maka cara kerja di workshop belum bisa terwujud.

Industri  batik  di Gemeksekti  tidak hanya batik cap dan batik tulis.  Akhir-akhir ini bertambah order batik pakaian seragam identitas sekolah.

Motif dan corak batik identitas sekolah berdasarkan ikon tiap-tiap kecamatan. Contoh batik seragam identitas Kecamatan Sadang, ada motif durian.

Durian menjadi ikon kecamatan paling utara di Kebumen. “Sehari bisa membuat 600-an meter batik printing,“ ujar Elis seraya menunjuk proses batik printing. (sol)