Industri Tekstil Kerajinan Tak Berdaya Hadapi Kartel Kapas

315
Jadin C Djamaludin (kanan) menyampaikan keterangan pers, Jumat (27/04/2018), di Rumah Seni Kumpul-kumpul, Karangnongko Panggungharjo Sewon Bantul. (sholihul hadi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Ahli tekstil tradisional dari Yogyakarta, Jadin C Djamaludin, mengakui para perajin tekstil untuk produk kerajinan tidak berdaya menghadapi kartel kapas. Satu-satunya cara agar bisa bertahan adalah mengandalkan penggunaan serat alami.

“Kita perlu merevitalisasi industri tekstil kerajinan. Selama ini banyak perajin tidak mengetahui serat kapas itu hampir 100 persen impor,” ungkapnya, Jumat (27/04/2018), di Rumah Seni Kumpul-kumpul, Karangnongko Panggungharjo Sewon Bantul.

Didampingi Agus Herwindo Muatip serta ahli pewarna alami tekstil Dedi purwadi, Jadin yang juga Ketua Yayasan Peduli Tekstil Tradisional Indonesia (Pettri) ini prihatin, pemerintah sepertinya tidak memberikan keberpihakan kepada para perajin tekstil kerajinan.

“Kartel kapas sangat kuat. Tadinya kapas untuk Indonesia di-pool di Malaysia lebih dulu, baru kemudian dikirim ke Iindonesia. Kita sudah perjuangkan pool di Indonesia,” ungkapnya.
Selama ini, para perajin tekstil untuk produk kerajinan jarang mengetahui bahan kapas yang digunakan itu merupakan sisa pabrik grade empat dan lima.

“Kualitasnya kurang bagus dan diolah lagi. Itu yang sesungguhnya terjadi. Maka, kita mencari alternatif untuk mengurangi penggunaan kapas. Untuk mengganti kapas kita tidak bisa karena sudah mendominasi. Kita coba menggunakan serat nanas. Itu mimpi sebetulnya. RRC serta India sudah menggunakan serat nanas,” katanya.

Baca Juga :  Lokasi Proyek Disebut Rawan Longsor, Pengembang Siap Tuntut Pakar Geologi UGM

Pameran

Sebagai bentuk kemandirian, Yayasan Pettri Yogyakarta kemudian menggelar Pameran Fesyen Serat Alami Alternatif. Kegiatan itu berlangsung di Jadin Craft Textile Gallery, Karangnongko Sewon Bantul pada 30 April hingga 6 Mei 2018.

Rencananya pameran dibuka Senin (30/04/2018) oleh Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DIY, GKR Hemas.

Agus Herwindo Muatip menambahkan, pada pameran kali ini dihadirkan antara lain berbagai serat alami, produk tekstil berbahan serat rami, serat nanas, afal sutera, serat sansivera, sutera liar dan sutera putih daun singkong.

Melengkapi pameran, diselenggarakan pula sarasehan dengan topik Serat Alami sebagai Alternatif Industri Tekstil Kerajinan serta Pewarna Alami, Alternatif Menyehatkan Pelaku dan Lingkungan Usaha Tekstil Kerajinan.

Sedangkan pergelaran busana dijadwalkan Minggu (06/05/2018) di Jadin Craft Textile Gallery. Kali ini akan ditampilkan sejumlah karya perancang APPMI Yogyakarta dengan bintang tamu Tuti Adyb.

Revitalisasi industri

Jadin C Djamaludin menambahkan, kegiatan yang diikuti 20-an perajin di DIY-Jawa Tengah ini merupakan langkah awal upaya revitalisasi industri tekstil kerajinan.

“Revitalisasi industri tekstil kerajinan merupakan jawaban mengatasi masalah ketergantungan terhadap kapas maupun serat impor lainnya dengan pengembangan serat alami alternatif diikuti proses industri yang ramah kesehatan bagi pelaku dan lingkungannya,” kata dia.

Baca Juga :  Bupati Beri Contoh Bayar Zakat

Sebenarnya, Indonesia memiliki sumber serat alami alternatif. Jumlahnya melimpah dan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku tekstil kerajinan.

Pengusaha dan desainer tekstil tradisional itu juga menyampaikan, tingginya ketergantungan Indonesia terhadap kapas impor karena Indonesia tidak bisa mencukupi kebutuhan kapas. Hal itu disebabkan sedikitnya lahan yang cocok untuk budidaya kapas.

Adapun serat alami selain kapas yang potensial dikembangkan yaitu rami, rosela, daun nanas, sansivera, dan lain-lain.

“Indonesia punya lahan kebun nanas sangat luas. Daunnya cuma dibuang, jadi limbah, padahal seratnya bisa dijadikan benang yang kuat dan bagus,” kata Jadin.

Dia mencontohkan, sebuah pabrik tekstil di Solo Jawa Tengah menggunakan serat rami untuk pembuatan pakaian tentara Amerika Serikat (AS). “Serat rami itu kuat, untuk pakaian tentara tahan peluru,” ujarnya.

Di wilayah DIY terutama lereng Merapi wilayah Sleman terdapat banyak lahan menganggur yang bisa ditanami rami. “Tanaman rami pada usia tujuh bulan sudah bisa panen,” kata dia. (sol)