Infeksi Masih Jadi Masalah Serius

114
Prof dr Tri Wibawa dalam pengukuhkannya sebagai Guru Besar Fakultas Kedokteran UGMdi Balai Senat UGM, Rabu (10/01/2018). (istimewa)

KORANBERNAS.ID — Penyakit infeksi hingga saat ini masih merupakan masalah yang serius di Indonesia. Dinamika kehidupan manusia yang diikuti co evolution mikroba jadi penyebab penyakit tersebut.

“Antimikroba yang sudah menjadi senjata utama dan sudah dimanfaatkan dalam waktu lebih kurang 80 tahun terancam tidak sakti lagi untuk membunuh mikroba. Hal tersebut dikarenakan adanya kekebalan mikroba terhadap obat antimikroba yang dipergunakan selama ini atau yang sering disebut sebagai antimicrobial resistance,” ungkap Prof dr Tri Wibawa di Balai Senat UGM, Rabu (10/01/2018) dalam pengukuhkannya sebagai Guru Besar Fakultas Kedokteran UGM.

Ketua Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran UGM itu mengungkapkan resistensi antibiotika terjadi karena adanya selection pressure yang terjadi pada saat antibiotika dipergunakan di klinik, hewan ternak, industri rumah tangga dan pertanian. Setiap penggunaan antibiotika berarti menambah terjadinya selection pressure.

Baca Juga :  BNN Kota Yogyakarta Bimbing Mantan Pecandu

Mekanisme ini dapat ditemukan pada pengobatan dengan pemberian antibiotika jangka pendek selama tujuh hari pada pasien dengan febril netropenia. Adapun yang mendasari proses terjadinya resistensi terhadap antibiotika dapat dijelaskan dengan menganalogikan adanya suatu populasi yang terdiri atas dua macam strain bakteri.

“Bakteri yang rentan terhadap antibiotika ditemukan dominan pada populasi tersebut, dan hanya sebagian kecil populasi bakteri memiliki mutasi genetik dan bersifat resisten terhadap antibiotika,” ungkapnya.

Karena itu, pemberian antibiotika dapat berlaku sebagai selection pressure pada populasi bakteri ini. Hasil akhirnya terjadi dominasi bakteri mutan yang resisten terhadap antibiotika.

Sedangkan bakteri yang rentan terhadap antibiotika tereradikasi dari populasi tersebut oleh karena pemberian antibiotika. Bakteri resisten ini yang akhirnya dijumpai di dalam tubuh inang, manusia maupun hewan yang pada gilirannya dapat bersirkulasi di lingkungan sekitarnya.

Baca Juga :  Gunungkidul Siap Hadapi Natal dan Tahun Baru 2018

Tri Wibawa menambahkan interaksi antara manusia dengan mikroba, baik bakteri, virus maupun jamur telah menimbulkan interaksi resiprokal dalam evolusi. Kedua belah pihak mengikuti sendiri jalan evolusi, namun karena keduanya telah hidup bersamaan selama ribuan tahun maka tidak dapat dihindari interaksi keduanya hingga pada tingkat materi genetika sehingga terjadi co-evolution.

“Interaksi ini memiliki implikasi yang luas, yaitu repons imun, patogenesis, kerentanan terhadap infeksi, dan resistensi terhadap antimikroba. Dengan demikian kedepan interaksi antar manusia dan patogen ini selayaknya selalu dipertimbangkan dalam rangka mencegah dan menangani kasus penyakit infeksi,” imbuhnya.(yve)