Ingin Program Bayi Tabung, Tak Perlu ke Luar Negeri

324
Sementara Prof dr Much Anwar SpoG (K), Kepala Departeman Obstetri dan Ginekologi FKKMK UGM (kanan) dan Kepala Instalasi Kesehatan Reproduksi RSUP Dr Sardjito, Dr Shofwal Widad SpOG (K) menyampaikan paparan tentang program bayi tabung, Jumat (08/06/2018). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Mempunyai keturunan adalah dambaan pasangan suami istri. Namun kadang keinginan mendapatkan anak bukan perkara yang mudah karena beberapa faktor penghambat.

Program bayi tabung jadi salah satu solusi mengatasi persoalan tersebut. Tapi tingginya biaya dan sulitnya mencari rumah sakit yang memiliki program bayi tabung atau infertilitas membuat pasangan harus mengubur angan mereka untuk mendapatkan anak.

Padahal di Indonesia, jumlah pasangan usia subur menurut data Profil Kesehatan Indonesia tahun 2012 mencapai 67.133.347 orang. Maka estimasi jumlah pasangan infertil berkisar 8 juta atau sekitar 12%.

Dari jumlah itu sekitar 2.4 juta atau 30% persen membutuhkan penanganan fertilisasi in vitro (FIV). Namun dari angka ini diestimasikan pasangan yang mendapat akses penanganan FIV kurang dari 1 persen.

Kemajuan teknologi penanganan infertilitas telah sedemikian maju dengan lompatan-lompatan yang mungkin belum bisa dibayangkan pada era awal dilakukan FIV. Temuan teknik-teknik baru dan evidence tentang aspek keamanan, efikasi, dan kualitas dalam penanganan dalam FIV telah dipublikasi dan seharusnya menjadi panduan pelayanan.

RSUP Dr Sardjito sebagai salah satu rumah sakit pemerintah mencoba memberikan layanan program bayi tabung. Sejak tahun 1996, rumah sakit tersebut menginisiasi program bayi tabung. Pada tahun 1997 lahir bayi tabung pertama di RSUP Dr. Sardjito.

Baca Juga :  Ini Kelebihan Kayu Oak di Mata Perajin Topeng

“Sampai saat ini lebih dari 200 bayi tabung telah dilahirkan di Klinik Infertilitas Permata Hati RSUP Dr. Sardjito,” ungkap Kepala Instalasi Kesehatan Reproduksi RSUP Dr Sardjito, Dr Shofwal Widad SpOG (K) disela Buka Bersama di Grand Inna Malioboro, Jumat (08/06/2018).

Menurut Shofwal, terdapat layanan teknologi simpan embrio beku. Teknologi ini memungkinkan penyimpanan sejumlah embrio berlebihan dari hasil pembuahan bayi tabung melalui berbagai teknik. Embrio-embrio berlebih yang tidak ditransfer ke rahim tersebut dapat disimpan dengan berbagai teknik pembekuan menggunakan cairan nitrogen beku, yang bisa digunakan apabila diperlukan.

“Karenanya ada bayi yang sebenarnya kembar namun dilahirkan dengan waktu yang berbeda tahun,” jelasnya.

Keberhasilan program bayi tabung tersebut, lanjutnya tergantung dari banyak faktor. Selain usia pasangan dan penyimpanan beku serta kesehatan pasangan bisa berpengaruh. Pasangan dengan usia antar 20 hingga 30 tahun, tingkat kemungkinan berhasil mendapatkan keturunan dari program bayi tabung lebih dari 50 persen.

Baca Juga :  Catut Nama Sultan, Penipu Perdayai Petani

Karenanya Shofwal menyarangkan pasangan yang sudah menikah satu tahun namun belum memiliki keturunan bisa memeriksakan diri atau konsultasi. Bisa jadi ada masalah kesehatan reproduksi yang muncul untuk mendapatkan keturunan.

Diantaranya saluran telur yang buntu atau terjadi gangguan sel telur. Selain itu suami memiliki gangguan kesehatan sehingga produksi sperma kurang dari 5 juta atau terjadi oligospermia.

“Tidak harus langsung program bayi tabung, namun konsultasi dan pemeriksaan kesehatan dapat meningkatkan hormon,” ungkapnya seraya menambahkan program bayi tabung membutuhkan biaya sekitar Rp 50 juta.

Sementara Prof dr Much Anwar SpoG (K), Kepala Departeman Obstetri dan Ginekologi FKKMK UGM mengungkapkan infertilitas merupakan patologi yang kompleks yang membutuhkan penelusuran kausa dan penanganan yang tepat. Salah satu penanganan yang paling efektif adalah FIV dan beberapa teknologi yang terkait dengan FIV.

“Penanganan infertilitas yang telah diketahui aman dan efektif seharusnya tersedia dan terbuka kepada setiap pasien infertil yang membutuhkan, tanpa ada barrier,” imbuhnya.(yve)