Ingin Sembuh dari Gangguan Jiwa? Keluarga Kuncinya

94
Para petugas melihat kondisi ODGJ di rumah Marsiyo, warga Desa Winong, Kecamatan Mirit, Kebumen yang sebagian besar masih dipasung dengan dirantai dibagian kaki. (nanang wh/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Kepedulian  keluarga  Orang Dengan Gangguan  Jiwa (ODGJ) dan  masyarakat bisa mempercepat penyembuhan ODGJ. Ironisnya  masih banyak keluarga ODGJ  yang mempercayakan  perawatan  ODGJ kepada pihak yang tidak  punya kompetensi.  Hal ini tidak saja memperburuk  kesehatan jiwa  ODGJ,  tetapi menimbulkan kematian  di  tempat penampungan ODGJ, karena berbagai faktor.

Kepedulian keluarga dengan melakukan perawatan di tempat  pelayanan kesehatan jiwa secara berkelanjutan dan teratur, mempercepat kesembuhan ODGJ. Dinas Kesehatan Kebumen segera membentuk Desa  Siaga  Kesehatan Jiwa (DSSJ)  di 35 desa  se-Kabupaten  Kebumen. Pembentukan DSSJ, salah satu upaya pelayanan kesehatan jiwa  yang melibatkan keluarga ODGJ.

Hal itu terungkap pada rapat koordinasi  Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa (TPKJM)  Kabupaten Kebumen Rabu (19/9/2019). Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Kabupaten Kebumen, Mahmud Fauzi ketika memimpin  rakor itu menyatakan sependapat rekomendasi  Fakultas  Psikologi Universitas Gajah Mada,  Yogyakarta,  soal penanganan kesehatan jiwa di Kabupaten Kebumen,. Salah satu rekomendasi, perlu ditumbuhkan peran serta masyarakat dan  keluarga  untuk mempercepat kesembuhan  ODGJ.

Baca Juga :  Warga Minta Lokasi AMP Dipindahkan

Kepala Dinas Kesehatan Kebumen dr Hj Y Rini Kristiani membantah, jika negara  belum  hadir  dalam  penanganan ODGJ di Kabupaten  Kebumen.  Pelayanan  kesehatan jiwa sudah dilakukan di beberapa puskesmas.  Malahan ada beberapa   kabupaten/kota  menjadikan Kebumen tempat kajian pelayanan kesehatan jiwa. Masih ada tempat penampungan ODGJ yang tidak  layak, menjadi tugas bersama untuk mencari jalan keluar

Adanya puluhan ODGJ yang ditampung di rumah yang tidak layak  puluhan tahun, seperti di rumah Marsiyo, warga Desa Winong, Kecamatan Mirit, Kebumen,  menjadi salah satu contoh,kurangnya kepedulian keluarga. Tempat penampungan ODGJ  yang tidak layak, kurangnya makanan, sehingga terjadi gizi buruk,  menurut Mahmud Fauzi,   setuju jika tempat  penampungan ODGJ dengan kondisi seperti  itu ditutup.

Dr  HA Dwi Budi Satrio MKes, kepala Dinas Sosial Perlindungan  Ibu Anak dan  Keluarga Berencana Kebumen, malahan meminta Pemkab Kebumen, agar sesegera mungkin menutup tempat penampungan ODGJ itu. Meskipun ada  kesulitan mengembalikan ODGJ kepada keluarganya di luar  Kabupaten Kebumen.  “ Daerah  lain nakal,  tidak mau mengurus mereka,“  kata Budi Satrio,

Baca Juga :  Uji Kompetensi Keahlian Ini Jadi Bekal Kerja Siswa

Dokter Badan Layanan Umum Daerah Puskesmas Mirit, dr Wahyu Widodo mengungkapkan, di rumah  Marsiyo, catatan terakhir ada 35  jiwa ODGJ. Hanya 5 orang berstatus penduduk Kebumen. Sebanyak 30 jiwa diantaranya dalam kondisi masih dipasung. Angka kematian ODGJ di tempat cukup banyak. Tidak  disebutkan angka kuantitatif   jumlah kematian  ODGJ  di tempat itu.

Tempat yang kotor, tidak higines, gizi buruk, menjadi persoalan di rumah ini.  Puskesmas Mirit telah membantu memberi  makanan tambahan, yang  berasal dari  iuran keluarga  besar  Puskesmas Mirit, belum bisa mengatasi gizi buruk ODGJ. Sebulan sekali dilakukan   pelayanan  kesehatan, serta pemberian bantuan peralatan mandi. (yve)