Ingin Sukses UN Ini Formulanya

206
Zahrowi, Ketua FMPPB Bantul. (sari wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Hasil prestasi Ujian Nasional (UN) Kabupaten Bantul tahun ini  kurang maksimal bahkan peringkatnya menurun dibanding tahun sebelumnya.  Melihat kondisi tersebut, Indonesia Digital Test (idigest) tergerak untuk menerapkan metode yang mereka miliki guna mengetahui ketuntasan belajar siswa di wilayah ini.

“Kami sudah bertemu  dengan Dinas Pendidikan  Bantul untuk menyampaikan metode yang kami miliki. Dan kami berharap Bantul bisa menjadi pilot project di Indonesia,” kata Arif Handono ST, Ketua Idigest, Rabu (16/08/2017) sore.

Pelaksanaan metode tersebut menurut Arif salah satunya dengan menggelar try out. Hasil try out akan dianalisa dengan teknologi yang mereka miliki guna mengetahui apa kekurangannya sehingga nilai UN kurang maksimal. Barulah dilakukan treatment untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan. Jadi antara siswa dan sekolah bisa berbeda penanganannya.

Baca Juga :  Soal Bonus Atlit Porda, Suara Dewan Pecah. Lho?

“Dari analisa tersebut akan diketahui pokok masalah kenapa hasil pendidikan di suatu sekolah atau siswa itu tidak maksimal. Bisa faktor siswanya, faktor cara penyampaian saat KBM (Kegiatan Belajar Mengajar), faktor guru, lingkungan sekolah, sarana dan prasarana serta faktor lainnya akan detail kami sampaikan,” kata Arif.

Hasil analisa selanjutnya akan diserahkan ke Dinas Pendidikan Bantul, kemudian digunakan untuk pembuatan strategi atau langkah yang perlu dilakukan. Dengan demikian antara satu siswa  dengan siswa lain, antara sekolah satu dengan sekolah lain bisa jadi cara penanganannya berbeda.

“Jadi ditangani sesuai dengan masalah masing- masing dan tidak ditangani dengan cara yang seragam,” katanya.

Ketua Forum Masyarakat  Peduli Pendidikan Bantul (FMPPB) Bantul, Zahrowi, mendukung langkah Indonesia Digital Test.  Metode Idigest dinilai mampu mendongkrak prestasi pendidikan di Bantul sehingga dirinya juga turut bergabung  dan siap mensukseskan program dan metode  tersebut.

Baca Juga :  Kosgoro 1957 Berjuang Keras Campur Was-was

“Saya mendukung dan saya sepakat penanganan pendidikan agar bisa maksimal harus disesuaikan dengan problem atau akar masalah di tiap siswa atau tiap sekolah. Sehingga tidak bisa disamaratakan,” kata pensiunan guru tersebut. (sari wijaya)