Ini Cara Purbalingga Jaga Kerukunan Beragama

356
Para peserta  dialog  lintas agama yang diselenggarakan Kantor Kemenag Purbalingga berfoto bersama  narasumber,  KH Nurkholis BY.(istimewa)

KORANBERNAS.ID — Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Purbalingga berkomitmen menjaga kerukunan umat beragama. Pada  Desember mendatang dalam rangka Hari Amal Bakti ke-72 Kemenag, Kantor Kemenag Purbalingga mengadakan dua kegiatan, yakni kemah kerukunan dan jalan sehat kerukunan yang melibatkan berbagai agama di Purbalingga.

“Kemah kerukunan akan kami selenggarakan dengan melibatkan para pemuda dari berbagai lintas agama, Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu. Jalan sehat kerukunan yang juga diikuti berbagai lintas agama, akan kami gelar untuk lebih mengakrabkan dan merukunkan warga yang berbeda agama di Purbalingga,”  ujar H Ahmad Muhdzir, Pelaksana Tugas Kepala Kantor Kemenag Purbalingga, pada Dialog Tokoh Lintas Agama di Aula Lantai 2 Kankemenag Purbalingga, Selasa (28/11/2017).

Dialog lintas agama itu dihadiri para penyuluh agama Islam bidang Kerukunan Umat Beragama (KUB) se-Purbalingga, utusan dari Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Badan Kerjasama Antar Gereja (BKSAG), Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Gereja Kristen, Katholik dan Konghucu.

Narasumber yang tampil, H Ahmad Muhdzir yang membawakan materi  Kebijakan Kementerian Agama Dalam Pembinaan Kerukunan Umat Beragama, F Supriyanto Ari Broto dari Gereja Katholik Santo Agustinus yang membawakan materi Purbalingga Rumah Pancasila Kita Bersama dan KH Nurkholis BY yang membawakan materi Janji Nabi Muhammad kepada Orang Kristen.

Ahmad Muhdzir mengakui, kerukunan umat beraagama belakangan sedang diuji, dengan munculnya paham radikalisme, yang ditandai berbagai sikap fanatisme.

Kelompok yang menganut paham ini selalu mengatakan di luar dirinya adalah salah secara mutlak. Ekspresi yang berlebihan dari sikap ini dapat berpotensi mengganggu kerukunan, karena tidak menghargai perbedaan.

“Radikal tidak hanya ada pada agama Islam. Di agama lain pun ada. Paham radikal jelas tidak menghargai perbedaan. Padahal perbedaan sejatinya adalah Sunnatullah untuk saling melengkapi antar manusia,” ujar Ahmad Muhdzir.

Selain radikalisme, paham lain yang perlu diwaspadai yakni paham keagamaan liberal. Corak keagamaan liberal pada dasarnya sangat menghargai kerukunan dan multikulturalisme, tetapi terjerumus pada sekularisme, inklusivisme, dan pluralisme agama tanpa kendali yang jelas.

Ahmad Muhdzir mengajak kepada tokoh-tokoh agama dan kader-kader penjaga kerukunan umat beragama di Purbalingga untuk terus menggelorakan semangat kerukunan  dan toleransi, dengan tetap menjunjung tinggi agamanya masing-masing.

Kader-kader kerukunan,sambung Ahmad Muhdzir,  berperan membimbing, membina keharmonisan kehidupan  keagamaan yang sekaligus sebagai mitra pemerintah.

“Di Purbalingga, tokoh-tokoh agama dan kader kerukunan beragama kami dorong untuk terlibat aktif  membangun  umat dan  membangun bangsa serta  negara dalam roh dan semangat Pancasila, dan UUD 1945.Tujuannya untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” kata dia. (sol)