Ini Cara Sembuhkan Gangguan Jiwa

538
Camat sedayu Fauzan Mu’arifin didampingi Tri Manora dan pengurus panti menyerahkan alat pembuatan kue dan mi ayam di LPPM Bima Sedayu, Minggu (03/09/2017) siang. (sari wijaya/kornbernas.id) 

KORANBERNAS.ID — Tidak ada orang yang ingin lahir ataupun hidup dalam kondisi tidak normal, termasuk mereka yang disebut Orang dengan Gangguan Jiwa atau ODGJ. Namun ketika itu terjadi pada keluarga, bukan berarti berakhir segalanya termasuk menatap masa depan, cinta dan membangun rumah tangga.

“Sejatinya, ODGJ dalam kondisi apapun  bisa disembuhkan, tentu dengan berbagai treatment dan selalu memohon pertolongan Allah SWT,” ungkap Dr Istiana M Sos,  pengasuh Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) Bina Insan Mandiri (Bima) Griya Kencana Permai Jalan Wates Km 10 Sedayu Bantul.

Di sela-sela penyerahan bantuan bagi 30 ODGJ, Minggu (03/09/2017), dia juga menyampaikan, ODGJ bahkan yang sudah hidup di jalanan bisa disembuhkan dengan kuasa Sang Pencipta. Tentunya ada cara atau ikhtiar yang dilakukan  oleh pegawai Dinas Sosial tersebut bersama sang suami, Agus  Darmono, beserta para relawan.

Adapun bantuan berupa alat pembuatan kue kering, pembuatan bakso dan mi ayam itu diserahkan oleh Camat Sedayu Drs Fauzan Mu’arifin, Tri Manora S Sos Kabid Pengembangan dan Pendayagunaan Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindunagn Anak Kabupaten Bantul dengan disaksikan anak panti asuhan setempat dan keluarga ODGJ.

Menurut Istiana, selain pendampingan rutin, juga diperlukan  pengobatan termasuk saat minum obat dan cek kondisi kejiwaan. ODGJ perlu diajak mengikuti kegiatan yang sifatnya gembira misalnya out bound, mengaji atau kegiatan sipiritual sesuai agama masing-masing, berlatih hadroh, hingga pelatihan  membuat olahan makanan yang bermanfaat bagi masa depan mereka.

Baca Juga :  PDIP Bantul Gelar Doa Bersama

“Intinya mereka adalah mahluk ciptaan Tuhan. Mereka adalah manusia yang harus kita uwongke, kita jaga harkat dan martabatnya. Jangan dijadikan sebagai obyek, bahkan ada yang sampai tega melakukan pengurungan atau pengucilan. Tapi mari rangkul mereka, perlakukan mereka dengan wajar, Insya Allah dengan berbagai pendekatan termasuk juga doa, semua bisa disembuhkan,” katanya. Bahkan salah satu ODGJ binaan Bima ada yang menemukan jodohnya dan menikah Agustus lalu yang bernama  Winarsih (40) warga Dingkikan Desa Argodadi.

Sang kakak pengantin, Tumilah (45), mengatakan adiknya menderita gangguan jiwa saat masih  kuliah semester lima di IAIN Sunan Kalijaga beberapa tahun silam. Akhirnya kuliah Winarsih terhenti dan praktis hari-harinya hanya  dihabiskan di rumah dan di dalam kamar. Berbagai pengobatan dilakukan termasuk memberi suntikan rutin dan ke RS Jiwa.

“Namun perkembangan  sangat terasa setelah saya dampingi dan ikut di Bima ini. Alhamdulillah sekarang adik saya normal dan menikah Agustus lalu. Tetapi  untuk suntik tetap diberikan,  namun obat-obatan sudah tidak lagi,” katanya.

Untuk itulah Tumilah berharap orang tua yang memiliki anak atau keluarga ODGJ agar tidak dikucilkan atau diperlakukan dengan tidak wajar, namun mereka harus dirangkul dan didampingi agar pulih mentalnya dan mampu kembali ke masyarakat.

Salah seorang ODGJ, Margiyono (30) asal Kadibeso Desa Argodadi yang mengatakan dirinya sakit dan pikiran kosong sejak 16 tahun silam.

Baca Juga :  Bambanglipuro Bisa Jadi Contoh Cara Membangun Kerukunan

“Saya dulu sempat sekolah hingga SD kelas 3 dan kerja bangunan. Tetapi tiba-tiba saya pikirannya kosong katanya karena kena tempat angker,” kata Margiyono.

Pengobatan dilakukan dengan berbagai cara tapi tidak sembuh, dirinya  sering merasa  pikiran kosong dan ingin marah kepada orang di sekitarnya.

“Tetapi setelah ikut di sini saya bisa  sehat dan bisa ikut pelatihan membuat kue. Besok saya mau jualan roti kering,” kata Margiyono yang mengaku belum menikah tersebut.

Anak sulung dari tiga bersaudara ini mengaku mendapat manfaat ikut pendampingan di Bima. “Obat  masih minum tapi tidak sebanyak dan sesering dulu. Sekarang saya lebih sehat,” katanya dengan bahasa Indonesia yang tersendat-sendat. Namun aura wajahnya terlihat sangat bahagia, apalagi ada ibunya Ny Warsilah yang setia mendampingi dirinya.

Melihat itu, Camat Sedayu mengapresiasi kepada pengelola panti dan juga relawan. “Ini kerja luar biasa dan saya support. Karena saya ingin Sedayu bisa terbebas dari berbagai permasalahan dasar termasuk masalah sosial seperti ini,” katanya. Semua bisa diatasi ketika berbagai pihak ikut bergerak dan bersatu padu.

Menurut Tri Manora, Dinas Sosial Bantul siap mendukung segala kegiatan dalam rangka pengentasan masalah sosial di masyarakat. “Masalah sosial ini harus kita atasi secara bersama-sama sehingga hasilnya lebih maksimal,”katanya. (sari wijaya)