Gambar calon kades Subiani dan Siti Rohmawati. (nanang wh/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Di saat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kebumen mengkampanyekan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak, Rabu (6/9/2017) bebas wuwur, justru minat masyarakat untuk mencalonkan diri jadi kepala desa (kades) justru berkurang. Di Desa Kalijaya, Kecamatan Alian, misalnya, sepinya pendaftar membuat petahana hanya didampingi istrinya untuk bersaing sebagai calon kepala desa.

“Sebelum mendaftar saya mimpi menyeberang sungai sat (tidak ada air-red) menggandeng istri saya. Bisa menyeberang, seperti tidak ada halangan,“ kata Subiani (44), calon kepala desa Kalijaya, kepada Koran Bernas, Senin (4/9/2017).

Di desa tersebut, pendatar calon kades hanya dua orang, dia dan istrinya Siti Rohmawati (40). Kejadian serupa juga terjadi di Desa Sumberadi, Kecamatan Kebumen dan Desa Mangli, Kecamatan Kuwarasan.

Baca Juga :  Mengenaskan, Penambang Tewas Tertindih Bongkahan  Batu

Subiani tidak tahu pasti penyebab sepinya peminat menjadi calon kades saat Pemkab Kebumen menegakan aturan larangan wuwuran untuk mempengaruhi pemilih. Padahal di desanya, sumber pendapatan dan penghasilan kepala desa dan perangkat desa yang bersumber dari tanah milik desa memang sangat tidak memadai.

Sebut saja tanah kas desa yang luasnya hanya 100 ubin atau 1400 meter persegi. Tanah sawah tadah hujan yang jika disewakan tahunan hanya laku Rp 2 juta/tahun.

“Penghasilan dari Alokasi Dana Desa, gaji kepala desa Rp 3 juta sebulan,“ kata Subiani.

Membandingkan pilkades yang diikuti Subiani 6 tahun lalu, menurutnya mengikuti pilkades tahun ini biayanya jauh lebih lebih sedikit. Enam tahun lalu keluarganya menghabiskan dana sebesar Rp 200 juta, untuk biaya, termasuk wuwuran.

Baca Juga :  Limbah Rumah Tangga Pengaruhi Kualitas Air Tanah

Enam tahun lalu, calon kades juga jauh lebih banyak, yakni tiga calon. Sekarang dengan kampanye pilkades bersih dan bebas wuwuran, beban biayanya lebih sedikit.

Biaya yang dikeluarkan paling banyak untuk menerima tamu di rumahnya. Saat kampanye pun, Subiani dan istrinya boleh disebut kampanye bersama. Bedanya gambar istrinya hitam putih sedangkan tanda gambar Subiani lebih banyak berwarna.

“Yang berwarna punya istri dipasang di dalam rumah saja,“ kata Subiani.

Meskipun saat kampanye tidak berlebihan, dia dan istrinya berharap, angka partisipasi pemilih lebih dari 800 orang. Setidaknya lebih dari 50 persen plus 1, dari Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang ditetapkan panitia Pilkades Kalijaya, jumlah pemilih dalam DPT hanya 1.548 orang. (yve)