Ini Dia Sejarah Cupu Kiai Panjolo

648
Cupu Kiai Panjolo, sejatinya berupa guci berukuran kecil yang tersimpan dalam sebuah kotak. Kotak ini kemudian dibungkus kain mori. (st aryono/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID–Cupu Kiai Panjolo diletakkan dalam kotak kayu tertutup ukuran lebar 35 cm panjang 20 cm tinggi 15 cm. Meskipun ketika dibungkus kain kafan besarnya hampir sama sekarung beras 50 kg, tetapi sebenarnya hanya berujud 3 buah guci masing-masing berukuran sekitar sekepal tangan orang dewasa.

Warnanya hijau kekuningan. Konon umurnya hingga kini sudah sekitar 500 tahun. Cupu paling besar bernama Semar Kinandu, yang agak kecil Kalang Kinantang sedang yang paling kecil, Kentiwiri.

Menurut buku “Sejarah dan Budaya Sebagai Pendukung Pariwisata di Kabupaten Gunungkidul” terbitan tahun 1995/ 1996 hasil kerjasama Pemerintah Kabupaten Gunungkidul dengan Kantor Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta, jumlah cupu awalnya 5 buah masing-masing Semar Kinandu, Kalang Kinantang, Klobot, Bagor dan Kenthiwiri. Hanya saja, tidak diketahui pasti penyebabnya, yang Klobot dan Bagor tiba-tiba hilang, entah kemana.

Pembukaan cupu selalu dilakukan malam Selasa (17/10/2017) Kliwon menjelang musim tanam, sekitar bulan September, Oktober atau Nopember. Meskipun awalnya keberadaan cupu ini hanya untuk meramal masalah hasil pertanian, tetapi kini berkembang pada ramalam politik, ekonomi, sosial bahkan kehidupan masyarakat, tidak hanya di Gunungkidul tetapi wilayah Indonesia.

Baca Juga :  PMI Sleman Siaga Bencana

Dengan disaksikan ribuan peziarah yang datang dari wilayah DIY, Jawa Tengah dan sekitarnya, termasuk para pejabat, anggota dewan, ribuan orang peziarah, duduk bersila di dua rumah berbentuk limasan, bahkan hingga meluber ke halaman bahkan pinggir jalan menuju tempat acara ritual dilaksanakan.

Karena sejak sore hujan gerimis, maka dibanding dengan acara yang sama di tahun lalu, jumlah pengunjung sekaligus peziarah, mengalami penurunan.

“Mungkin karena sejak sore hujan, sehingga banyak warga yang malas datang. Selain itu, tahun ini di Gunungkidul tidak ada peristiwa penting termasuk masalah politik,” kata Sutarpan Kepala Desa Girisekar Kecamatan Panggang yang juga ahli waris keberadaan cupu.

Proses pembukaan kain pembungkus cupu, secara umum berjalan lancar. Senin (16/10/2017) pukul 23.00 sudah dimulai kenduri selamatan. Untuk mengikuti acara ritual ini harus dengan perjuangan minimal tidak tidur semalam. Selain itu mereka juga harus bersedia duduk lesehan tidak kurang selama 6 jam sejak Senin (16/10/2017) malam sekitar pukul 21.00 hingga Selasa (17/10/2017) pukul 04.00 dinihari. Tapi karena ingin ngalap berkah sekaligus mengetahui berbagai isi yang tergambar dalam kain kafan pembungkus cupu, yang konon dipercaya bisa menjadi gambaran berbagai kejadian penting setahun mendatang, termasuk peristiwa politik, sosial, hukum bahkan kehidupan masyarakat, maka rasa kantuk, capai bahkan kaki pegal linu akibat duduk lesehan, seakan tidak dirasakan.

Baca Juga :  Hujan Datang, Pengunjung Pantai Harus Waspada Longsor

Meskipun tidak ada aturan tertulis, tetapi para peziarah nampaknya sudah tahu pasti bagaimana mereka harus datang dan menempatkan dirinya. Selain dilandasi rasa ikhlas dan tidak mengeluh karena lamanya menunggu prosesi, peziarah yang datang dalam acara ritual ini harus bersikap sabar, tenang dan tidak banyak bicara. (SM)