Telaga Kering di Kecamatan Girisubo, Gunungkidul (st aryono/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak Gunungkidul melakukan revitalisasi lima telaga di kabupaten itu. Hal itu dilakukan untuk mengatasi bencana kekeringan yang setiap tahun melanda ribuan warga Gunungkidul. Revitalisasi lima telaga buatan itu menelan dana hingga mencapai Rp 6,1 miliar.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak, Tri Bayu Aji Selasa (22/8/2017) mengatakan, lima telaga yang dibangun diantaranya Telaga Piji, Desa Balong, Kecamatan Girisubo, Telaga Sunut di Kecamatan Ponjong, Telaga Tileng, Desa Petir, Rongkop. Sedang dua telaga lainnya yang dibangun pada Telaga Serapual di Desa Girisekar, Kecamatan Panggang dan Telaga Sudang yang terletak di Desa Jetis, Kecamatan Saptosari.

Baca Juga :  Astaga, Pelajar SMP Buat Rekaman Video Asusila

Ditambahkan Tri Bayu Aji, program revitalisasi lima telaga di Gunungkidul sudah dimulai. Diharapkan pembangunan ini selesai di akhir tahun ini.

“Sudah tahap pembangunan dan alokasi anggaran untuk perbaikan mencapai Rp 6,1 miliar,” ujarnya.

Dia menjelaskan, program revitalisasi dilakukan untuk mengembalikan fungsi telaga yang sudah mati. Karena diakui, dari lima telaga yang diperbaiki kondisinya telah mati sejak lama.

“Ini baru tahap awal karena ke depannya juga masih akan ada program perbaikan lainnya,” tambahnya.

Terpisah, Kepala Desa Balong, Girisubo, Suwardiyanto mengakui jika telaga Piji yang ada di Desa Balong mendapatkan program revitalisasi dari BBWSSO. Menurut dia, hingga sekarang program perbaikan sudah terlaksana dan ditargetkan selesai pada akhir tahun nanti.

Baca Juga :  Kawanan Anjing Liar Berburu ke Perkampungan, Puluhan Kambing jadi Korban

“Masih berjalan dan saat ini memasuki proses pengerukan terhadap sedimentasi di dalam telaga,” katanya.

Menurut dia, Telaga Piji sudah lama mati. Hal ini terjadi karena adanya pendangkalan karena tanah yang terbawa aliran tanah masuk ke dalam telaga. Akibatnya, telaga yang semula sebagai tandon air tidak berfungsi karena pendangkalan.

“Saat hujan ada airnya tapi tidak baik. Namun saat hujan berhenti, air di telaga cepat mengering,” ucapnya. (yve)