Ini Jawaban Pemda DIY Soal Danais

403
Sekda DIY Gatot Saptadi (tengah) didampingi Umar Priyono, Ronny Primanto Hari dan Didiek Purwadi menyambut perkenalan yang disampaikan Pemimpin Umum sekaligus Pemimpin Redaksi koranbernas.id, Putut Wiryawan, Selasa (30/01/2018), pada acara Ngobrol Santai tentang Jogja.

KORANBERNAS.ID – Ada sebagian kalangan masyarakat salah mengerti soal keberadaan Dana Keistimewaan (Danais) yang dialokasikan pemerintah pusat ke Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Dana yang diberikan sebagai konsekuensi diundangkannya UU Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY itu sifatnya tanpa batas waktu dan prinsipnya digunakan untuk kesejahteraan masyarakat.

Jawaban tersebut disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Gatot Saptadi, Selasa (30/01/2018), pada acara Ngobrol Santai tentang Jogja Menghadapi 2018.

Pertemuan yang berlangsung di Mang Engking Jalan Soragan Yogyakarta kali ini dihadiri para pimpinan media massa cetak, media online, radio dan televisi di wilayah DIY.

Dalam kesempatan itu Gatot Saptadi didampingi Asisten Keistimewaan Setda DIY Didiek Purwadi, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) DIY Ronny Primanto Hari, Kepala Dinas Kebudayaan DIY Umar Priyono, Kepala Dinas PUP ESDM Muhamad Mansur serta Marlina Handayani mewakili Kepala Dinas Pariwisata DIY Aris Riyanta.

“Salah kaprah seolah-olah Danais itu semacam kue yang harus dibagi (secara langsung) kepada masyarakat,” ungkap Didiek Purwadi.

Berbeda dengan model pembagian dana serupa untuk Papua maupun Aceh yang digelontorkan langsung, khusus Danais harus diusulkan melalui program dan kegiatan terlebih dahulu.

Menurut dia, Danais adalah jawaban dari tujuan keistimewaan yakni menciptakan pemerintahan yang demokratis dan baik, menciptakan lapangan sosial yang berbhinneka, menciptakan kesejahteraan dan ketenteraman.

Dia mengaku, secara proporsional setelah ada Danais pada kurun waktu lima tahun terakhir terjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat DIY. “Setelah lima tahun ada perbaikan tapi belum ada bukti apakah ini pengaruh dari keistimewaan atau yang lain,” ungkap Didiek.

Menurut dia, Danais yang pada tahun ini disetujui Rp 1 triliun dari usulan Rp 1,7 triliun, hanyalah bagian dari dana total Rp 17 triliun yang ada di seluruh instansi termasuk instansi vertikal di DIY.

Sebenarnya, ada banyak fakta memperlihatkan Danais mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat bahkan mampu menciptakan rasa aman.

Didiek mencontohkan keberadaan desa-desa budaya, para perajin, maupun, nayaga atau pengrawit dan sebagainya yang kesejahteraannya meningkat. Hanya saja, hal-hal positif seperti itu luput dari pemberitaan media.

Dalam forum dialog, muncul pertanyaan ada kesan Danais untuk pergelaran seni hanya dinikmati oleh kalangan tertentu, orang-orangnya itu saja. Contoh paling terlihat, dalang Ki Seno Nugroho terkesan sering tampil dibanding dalang lainnya.

Menjawab pertanyaan tersebut, Umar Priyono mengakui untuk saat ini Ki Seno Nugroho memang paling laris karena punya kelebihan. “Ini fakta. Memang saatnya didisain,” kata dia.

Selaku Kepala Disbud DIY, Umar menjelaskan dinas yang dipimpinnya itu memfasilitasi tiga komunitas dalang yaitu Pepadi, Pepadhang dan Sukra Kasih. Tiap bulan, pendapa Dinas Kebudayaan DIY di Jalan Cendana digunakan untuk pentas para dalang pemula dari komunitas Sukra Kasih.

Adapun komunitas Pepadhang memiliki jadwal pentas di Sasono Hinggil Dwi Abad Alun-alun Selatan Keraton Yogyakarta. “Pasti Seno tidak masuk Pepadhang,” kata Umar.

Mengenai mekanismen penggunaan Danais, dia menyampaikan, selain dilaksanakan oleh Disbud DIY, kewenangan itu juga ada pada Dinas Kebudayaan Kabupaten/Kota se-DIY. Adapun porsinya fifty-fifty.

Khusus tahun ini, penggunaan Danais untuk pertama kalinya mengacu pada Perdais Kebudayaan yang baru saja disahkan oleh DPRD DIY dan Pemda DIY. Artinya, ada banyak hal baru dan model ini satu-satunya yang ada di Indonesia.

Silaturahim

Sebelumnya, saat acara perkenalan Sekda DIY Gatot Saptadi merasa bersyukur dapat mengadakan silaturahim dengan pimpinan media massa. Baginya, acara ini semacam nostalgia dengan jurnalis sejak dirinya menduduki jabatan sekitar tiga bulan silam.

“Pertemuan ini untuk silaturahim dan saling kenal. Kita perlu duduk bersama menyatukan kepentingan pemerintah dan pers dan kami tidak punya kewenangan mengintervensi independensi pers. Banyak hal yang  bisa kita lakukan secara bersama-sama untuk DIY. Acara ini bukan yang pertama dan yang terakhir,” harapnya.

Gatot kemudian memaparkan program-program Pemda DIY lima tahun ke depan yang perlu memperoleh dukungan dari berbagai pihak termasuk dari media selaku corong bagi masyarakat sekaligus kontrol bagi pemerintah. “Kami terbuka. Pers dan pemerintah itu tidak ada dusta di antara kita,” kata dia.

Sekda juga mengajak semua pihak baik itu DPRD DIY maupun masyarakat supaya memiliki komitmen yang sama membangun DIY lima tahun ke depan sehubungan disusunnya RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) 2017-2022.

Adapun tugas pers bisa menggali visi dan misi Gubernur DIY yang ujungnya juga sama yakni untuk kesejahteraan masyarakat.

“Inti dari kita bertemu di sini, saya mengajak untuk sama-sama melaksanakan tugas masing-masing untuk kesejahteraan masyarakat DIY. Bentunya saja yang beda. Sepanjang untuk kepentingan Pemda saya siap berdiskusi,” kata Gatot Saptadi. (sol)