“Ini Jogja, Lakukan dengan Cara Halus”

305
Lahan calon bandara di Kulonprogo. (sri widodo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — PT Angkasa Pura (AP) akan kembali mengirimkan surat peringatan kedua dan ketiga, terkait dengan pengosongan warga terdampak bandara.

Sekretaris Proyek Pembangunan Bandara NYIA, Didik Catur, Rabu (13/09/2017) kepada wartawan menyampaikan pihaknya  akan mengirimkan surat peringatan kedua dan ketiga. “Mungkin paling akhir pada 21 September. Karena batas akhir pengosongan 22 September,” ungkapnya.

Surat perintah pengosongan ditujukan tidak hanya kepada warga yang mengajukan relokasi, tetapi juga warga yang melakukan pembangunan rumah pindah secara mandiri.

Ditanya kemungkinan ada warga yang bandel tetap tidak mau pindah apakah akan dilakukan pengosongan paksa, menurut dia, akan dilakukan sesuatu. “Ini kan Jogja, ya kita lakukan dengan cara yang halus. Bukan cara kasar tentu saja,” katanya.

Didik menyatakan, percepatan pembangunan bandara NYIA merupakan tanggung jawab beberapa pihak. Pemkab Kulonprogo dan pihak lainnya diharapkan ikut berperan.

Di kawasan relokasi sendiri sekarang proses pembangunan rumah terus berjalan. Ada yang sudah 90 persen, namun ada juga yang baru memasuki proses pengerjaan atap rumah. Jaringan listrik di kawasan ini sudah ada. Namun untuk jaringan tersier sambungan ke rumah belum ada.

Direktur PDAM Kulonprogo Jumantara menjelaskan, jaringan utama di dekat kawasan relokasi sudah tersedua. “Untuk memasang jaringan air mendekati rumah-rumah memang belum ada. Kan badan jalan atau gang masuk di perumahan belum dibuat. Kita menunggu jalan gang masuk itu sebelah mana. Kalau jalan masuk sudah, kita tanam jaringan dan siap melayani permohonan sambungan,” ujarnya.

Menurut Jumantara, hingga saat ini belum ada warga mengajukan permohonan sambungan ke rumah-rumah.

Sekda Kulonprogo Astungkoro menyatakan jaringan listrik sudah ada. “Sudah ada rumah yang dilakukan sambungan listrik. Bahkan sudah berfungsi untuk penerangan atau kebutuhan pekerjaan pembangunan rumah. Seperti memotong keramik dan lainnya,” katanya.

Sedangkan keperluan air bersih belum ada yang mengajukan permohonan air PDAM. “Warga membuat sumur gali sendiri untuk kebutuhan air bersih mereka,” kata dia.

Sekda menambahkan, Pemkab terus mengawal pembangunan rumah relokasi. Ini sebagai bentuk kepedulian Pemda terhadap warga terdampak, sekaligus mendukung percepatan pembangunan bandara. (wid)