Ini Kelebihan Kayu Oak di Mata Perajin Topeng

233
Alex Sofyan Solechan, perajin topeng kayu dari Dusun Tempuran Desa Klepu Kecamatan Kranggan Temanggung. (endri yarsana/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Topeng tidak dibuat dari kayu sembarang kayu. Untuk menjaga kualitas produksinya, perajin terpaksa harus mendatangkan kayu oak dari Kalimantan sebagai  bahan bakunya.

Alex Sofyan Solechan (52), seorang perajin topeng kayu dari Dusun Tempuran Desa Klepu Kecamatan Kranggan Temanggung ini salah satunya. Sejak kecil dia menekuni usahanya yang diberi nama Kondang Yakso.

Alex mengaku, produk topeng kayunya harus memperhatikan jenis bahan baku kayu yang digunakan. Selama menekuni produk tersebut dia sudah mencoba berbagai kayu tetapi sejak tahun 1987 ia memutuskan memakai kayu oak. Kelebihan kayu jenis ini adalah kualitasnya bagus.

“Dengan menggunakan bahan baku kayu oak kualitas sangat terjamin, karena kekuatan kayu semakin kering, semakin wulet dan ringan,” ungkapnya.

Baca Juga :  Nikita Juara Berbusana Adat Jawa

Meski kayu oak termasuk jenis kayu lunak tetapi jika digunakan untuk membuat topeng tidak mudah pecah. Kayu-kayu tersebut  harus dikeringkan selama satu tahun agar diperoleh kualitas bagus.

Tidak setiap hari Alex membuat topeng. Baginya, sebuah seni harus diciptakan dengan suasana hati yang bagus atau dikerjakan sesuai keinginannya.

Dari sekian banyak topeng hasil karyanya, ada salah satu topeng diberi nama Rojo Yakso dengan menonjolkan tiga identitas Temanggung. Ketiganya adalah Gunung Sindoro- Sumbing, daun tembakau dan kepala kuda.

Ketiga bagian tersebut punya arti. Sindoro-Sumbing sebagai dua gunung di Temanggung, daun tembakau menggambarkan komoditas pertanian yang cukup terkenal dari kabupaten itu.

Sedangkan kepala kuda menggambarkan kesenian kuda lumping yang sudah lebih terkenal dibanding kesenian lainnya.

Baca Juga :  Racana IAIN Purwokerto Bangun Desa Wisata di Riau

“Untuk pemasarannya tidak hanya di wilayah Kota Temanggung saja, namun  ke luar Pulau Jawa hingga luar negeri seperti Meksko, Jepang, Malaysia dan juga Jerman,” ucapnya.

Topeng-topeng kayu selama ini  tidak pernah dipatok harganya, tergantung pembeli. Meski demikian  harga terendah dipatok Rp 150.000 hingga harga tertinggi yakni Rp 3 juta. Harga tersebut berbeda saat dijual ke luar negeri. (sol)