Ini Kisah Perjuangan Guru untuk Anak-anak nya di SLB Mutiara Bangsa

5499
Nina berfoto dengan beberapa anak-anak spesial yang diasuh dan dibimbing bersama sahabat-sahabatnya. (Bekti Maharani/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID–Anak-anak spesial itu istimewa dan mereka membutuhkan hati yang dingin dan tulus untuk membimbing dan mengarahkan mereka. Keberadaannya istimewa dan unik, mutiara-mutiara ini diciptakan Sang Pencipta karena masing-masing ada tujuannya.

Kepala Sekolah Sekolah Luar Biasa (SLB) Mutiara Bangsa, Weleri, Kabupaten Kendal, Nina Dewi Nurchipanaya menuturkan hal tersebut, di tengah launching buku yang ditulisnya “Gerbang Tertutup di Bulan Juli”, akhir pekan lalu, di Desa Wisata Lembah Kalipancur Manyaran Semarang.

Acara lainnya, yaitu penggalangan dana bagi SLB Mutiara Bangsa.

“Mengapa? Kami perlu “rumah”. Rumah di mana sebagai keluarga besar, kami ada tempat untuk berbagi,saling memperhatikan satu dengan yang lain. Bukannya itu sekolah?. Bagi kami, Mutiara Bangsa bukan sekadar tempat bagi anak-anak spesial saja, tapi juga tempat bagi orang tua murid, anak-anak muda berkarya, dan tempat siapapun yang datang dan ingin merasakan sebuah persahabatan dengan bahasa ketulusan,” kata Nina.

“Gerbang Tertutup di Bulan Juli”, berkisah tentang awalnya seorang Nina, memutuskan untuk hidup melayani anak-anak spesial. Gerbang sekolah, itu tempat yang spesial baginya, kenapa?. Karena di gerbang itulah pertama kali Gusti Allah ajarkan tentang cara pandang yang berbeda mengenai semua yang berhubungan dengan anak- anak spesial.

Baca Juga :  Pemilu di Indonesia Paling Kompleks se Dunia

Hati yang sudah diubahkan, memampukan Nina, menjalani hari-hari yang penuh warna dengan anak anak sebagai mutiaranya Gusti Allah. Mudahkah menjadi guru bagi mereka? Di awal bekerja, Nina telah langsung dihadapkan dengan masalah yang menyadarkannya tentang ini. Gelar kesarjanaan dari salah satu universitas di kotanya Katon Bagaskara, Yogyakarta, tidak menjadi jaminan.

Anak-anak ini tidak cukup diajari oleh seorang sarjana. Tetapi mereka lebih memerlukan seorang guru yang mau mengerti dan memahami mereka. Empat murid pertamanya, membawa Nina merajut cerita. Suka, sedih, kehilangan, cemas dan perasaan cinta, dikemas dalam kisah ini.

Akhirnya Nina juga selalu ada dalam banyak pilihan. Tetap mengabdi di sekolah pertama atau mengabdikan hidupnya di sekolah yang baru dirintisnya?’

Ini tidak mudah baginya. Karena di sekolah yang pertama Nina sudah jatuh cinta dengan anak-anaknya, dan di sekolah yang baru ada juga anak- anak lain yang mulai mencuri hatinya.

Baca Juga :  Awas, Salah Pilih Camilan Sebabkan Gigi Berlubang

“Hidup adalah pilihan. Aku memilih bukan apakah harus tetap di sekolah yang lama atau yang baru. Pilihanku adalah apakah aku mau mengikuti rencana dari Gusti Allah atau membiarkan itu lewat dan diambil oleh orang lain yang rela hatinya dititipi hatiNya?,” ujar ibu tiga orang anak tersebut.

Limbung dan tiada berdaya, di gerbang itu pula Nina menutup cerita dengan anak-anak di SLB pertama yang diasuhnya selama tiga tahun. Namun di atas kepedihannya, Nina memutuskan berjuang di SLB kedua yang dirintis bersama sahabat-sahabatnya.

Membaca buku ini nyaris mengucurkan air mata terus menerus. Perjuangan seorang ibu, pendidik, dan hati yang mau berbagi untuk anak-anak special. Pengalangan dana melalui penjualan buku dan hal lainnya terus dia lakukan bersama sahabat-sahabatnya demi  cinta terhadap anak-anak spesialnya. (SM)