Ini Pernyataan Sikap PWI Banyumas

188
Perwakilan jurnalis mengirim karangan bunga. Tanda duka cita. (prasetiyo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Banyumas mengeluarkan pernyataan terkait aksi kekerasan yang menimpa wartawan. Pernyataan ini ditandatangani Ketua PWI Banyumas Sigit Oediarto dan Sekretaris Ustad Mukorobin.

Berikut isi pernyataan sikap tersebut:

Pada Senin (9/10/2017) sejak pukul 10:00 , Wartawan Banyumas yang terdiri dari berbagai media (Televisi, Radio, Online dan Cetak), melakukan peliputan terhadap aksi dari komunitas Selamatkan Slamet.

Aksi ini dimulai dari Kampus IAIN Purwokerto, hingga Alun-alun Purwokerto tepatnya di depan pintu gerbang Pendopo Sipanji atau Kantor Bupati Banyumas. Ratusan orang, dari berbagai elemen ini meminta agar Bupati Banyumas Achmad Husein untuk membuat surat rekomendasi kepada Presiden RI Joko Widodo untuk menghentikan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Baturaden.

Aksi ini digelar dengan alasan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) Baturraden dikhawatirkan menyebabkan kerusakan lingkungan, yang pada akhirnya berdampak kepada warga terutama pada pemanfaatan air bersih yang bersumber dari hutan Gunung Slamet.

Dalam beberapa waktu, air mengalami keruh sehingga tidak bisa digunakan.
Aliansi Selamatkan Slamet, tidak ada kata sepakat dengan Pemerintah Kabupaten Banyumas, sehinga mereka bertahan di halaman Alun-alun Purwokerto, sebelah utara hingga Senin Malam.

Baca Juga :  SMAN I Purbalingga Kirim Dua Siswa Ini ke OSN Padang

Sekitar pukul 22:00, aparat Kepolisian dan Satuan Polisi Pamong Praja melakukan upaya untuk membubarkan masa yang bertahan dengan mendirikan tenda.
Pada saat melakukan pembubaran masa ini, dari keterangan wartawan yang meliput pembubaran (Agus Wahyudi dan Dian Aprilianingrum dari Suara Merdeka, M Wahyu Setiya Putra dari Radar Banyumas, Aulia El Hakim dari Satelit Pos dan Darbe Tyas dari Metro TV), polisi menghalang-halangi kerja wartawan dengan meminta untuk tidak mendokumentasikan proses pembubaran masa yang berada di tenda.

Selain itu Darbe Tyas, dipukuli oleh oknum polisi dan Satpol PP sehingga mengalami luka. Kamera milik Darbe Tyas juga dirampas oleh oknum tersebut.
Padahal mereka berada di lokasi berlangsungnya aksi adalah dalam ranka melaksanakan tugas jurnalistik. Wartawan dalam melaksanakan tugasnya dilindungi oleh Undang-undang No 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Baca Juga :  Ada Makan Gratis di Stasiun Purwokerto

Atas kejadian yang menimpa jurnalis yang ada di Banyumas tersebut, kami PWI Banyumas menyatakan:
1. Mengutuk aksi kekerasan terhadap wartawan yang sedang meliput.
2. Meminta kepada pelaku tindak kekerasan terhadap wartawan untuk diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.
3. Meminta kepada Kapolres Banyumas dan Bupati Banyumas, agar bisa mengembalikan sejumlah barang yang hilang dan menganti kerusakan yang ditimbulkan.
Demikian surat pernyataan ini kami buat untuk diperhatikan.

Purwokerto, 10 Oktober 2017.(*)