Ini Suka Dukanya Jadi Awak Kapal Tanker

1058

KORANBERNAS.ID — Namanya Ganesha Herlambang Putra. Usianya masih sangat muda, 22 tahun 9 bulan. Pemuda kelahiran 11 April 1995 yang biasa dipanggil Ganes ini sudah menyinggahi beberapa negara, lantaran dia menjadi awak kapal tanker berbendera Indonesia.

Kapal itu mengangkut gas ke Jepang pulang pergi berkali-kali dan singgah di kota yang berbeda-beda serta di Taiwan.

Menjadi pelaut sebenarnya bukan cita-citanya. “Saya juga tidak menduga akan menjadi pelaut,” kata lulusan program D1 Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid Solo Jurusan Perhotelan dalam perbincangannya dengan koranbernas.id, Selasa (09/01/2018).

Dia kini sedang mempersiapkan diri melaut lagi untuk program kontrak  enam bulan ke depan. Rencananya kapal bertolak Rabu (10/01/2018). Kali ini berangkat ke Taiwan, biasanya dari Bontang Kaltim dan ini pelayaran keempat kalinya.

Uniknya, Ganes merupakan keluarga pelaut. Ayahnya, Heru Widodo juga pelaut kapal tanker. Kini sudah pensiun lantaran usia. Bahkan calon kakak iparnya juga pelaut kapal pesiar.

Sebenarnya Ganes dulu sudah diterima kerja di sebuah hotel ternama di Jogja sesuai dengan pendidikannya, jurusan Perhotelan. Gaji awal yang ditawarkan Rp 2,4 juta. Akhirnya dia konsultasi dengan orangtuanya dan ayahnya menyarankan melamar menjadi pelaut.

Baca Juga :  500 Outfit Desainer Meriahkan Jogja Fashion Festival

Pertimbangannya, gajinya hampir Rp 15 juta per bulan. Memang kerjanya lebih berat, selama 6 bulan lebih di tengah samudera. Singgah di berbagai kota di dua negara meski kadang-kadang hanya beberapa jam saja.

Awalnya memang berat, berbulan-bulan berpisah dengan ibu, bapak, adik dan kakaknya. Sejauh mata memandang hanya lautan lepas yang dilihatnya. Apalagi ketika tugas utamanya di dapur membantu menyiapkan makan untuk 39 awak kapal sudah selesai, kadang-kadang ada rasa jenuh.

“Kadang jenuh juga. Rasa rindu kadang menyergap. Ya untung ada HP yang bisa untuk komunikasi, meskipun kadang pulsanya juga habis banyak. Apalagi kalau rindu pada kekasih,” katanya tersenyum.

Tetapi lama-lama terbiasa juga dengan kehidupan di kapal. Dia bersyukur selama berlayar sama sekali belum pernah mabuk laut. Ini sangat disyukuri karena ada juga awak kapal yang sudah lebih senior tapi masih mabuk laut.

Baca Juga :  Tanda Cinta dari “Koyok Istimewa”

Apa rahasianya? Ganes sendiri merasa tidak pernah tahu. Ya mungkin, katanya, Tuhan menakdirkan dirinya menjadi pelaut. Dia telah menyelesaikan tes kesehatan yang harus dijalani setiap hendak berlayar dan siap sepenuh hati.

Demikian juga persyaratan administrasi lainnya. Hanya saja, ada sesuatu yang harus diikhlaskannya. Yakni dia tidak bisa berkumpul dengan keluarga ketika merayakan Idul Fitri.

Ganesha Herlambang Putra menjalankan tugas di ruang dapur kapal tanker. (istimewa)

Ini terjadi apabila jadwal tidak berubah, saat umat Islam merayakan hari kemenangan setelah sebulan berpuasa, dia bersama seluruh awak kapal masih melaju membelah samudra.

Tapi itu konsekuensi yang sudah disadarinya. Ganes hanya bisa membayangkan seluruh keluarganya pergi ke tanah lapang melaksanakan Salat Id penuh sukacita sementara dirinya terpisah jauh di tengah lautan.

Membayangkan pula dia mencium tangan kedua orangtua sembari memohon maaf atas semua kesalahan. Atau bercanda dengan kakak dan adiknya. Tetapi itu hanya fatamorgana karena dia hanya bisa mendekap rindunya sendiri, di atas kapal di tengah lautan. (sol)