Interdisiplinaritas Antarilmu Tingkatkan Pluralisme

129

KORANBERNAS.ID — Para akademisi ikut bertanggunjawab dalam meningkatkan pluralisme budaya. Diantaranya melalui pengembangan interdisplinaritas antarilmu.

“Akademisi bertanggungjawab memberi peluang bagi perbedaan dan kreativitas dalam ilmu,” papar Dosen Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma (USD), Rm Dr Hary Susanto SJ dalam seminar Multikulturalisme dalam Perspektif Pendidikan Humaniora Di Era Disrupsi, dalam rangka Dies Natalis Ke-25 Fakultas Sastra USD, di kampus setempat, Kamis (26/4/2018).

Menurut Hary, akademisi juga perlu memiliki pandangan dan sikap terbuka untuk mengatasi kesempitan dalam ilmu. Selain itu berani mengambil sikap menyuarakan multikulturalisme maupun keluasan pandangan.

“Sikap itu berguna melawan monokulturalisme, unilateralisme, kesempitan dalam ilmu,” tandasnya.

Sementara Rektor USD, Johanes Eka Priyatma MSc PhD mengungkapkan muncul masalah besar pada bangsa ini saat rasionalitas mulai tersingkir. Banyak manusis merasa menjadi ‘Tuhan’, atau menjadi super human.

Baca Juga :  Aksi Dorong-dorongan Warnai Pengosongan Lahan Bandara

Apalagi terjadi fenomena disruptif yang oleh banyak orang dimotori oleh teknologi. Namun disrupsi sesungguhnya itu bukan oleh teknologi tapi oleh sastrawan.

“Gagasan-gasan besar sering lahir dari pemikiran sastrawan, bukan dari teknologi,” ungkapnya.

Untuk itu para sastrawan diharapkan dapat berpikir ke hal-hal yang lebih filosofis. Dengan demikian Indonesia bisa lebih maju kedepannya.

Mereka juga harus berperan untuk membuat gagasan-gagasan besarnya. Hal itu penting daripada yang berperan hanya para politikus yang hanya berpikir jangka pendek dan mengejar kursi jabatan.

“Sastrawan perlu berpikir dengan bingkai rasionalitas guna menghasilkan gagasan-gagasan besar sehingga peradaban manusia, peradaban bangsa ini, bisa lebih maju,” ungkapnya.

  1. Pembicara lain, Dr Ninok Leksono, mengatakan inovasi dibutuhkan untuk mengatasi persoalan sulit dan kompleks. Cara berpikir inovatif itu akan memecahkan masalah yang mustahil dilakukan ilmu eksakta atau humaniora.
Baca Juga :  Angka Kelahiran di DIY Meningkat

“Jalan keluar adalah melalui berpikir tingkat tinggi, higher-order thinking,” imbuhnya.(yve)