Internasionalisasi Kampus Siapkan Warga Global

207
Rektor UII, Fathul Wahid ST MSc PhD, didampingi Wakil Rektor I Dr Drs Imam Djati Widodo MEngSc, Wakil Rektor II Dr Zaenal Arifin MSi, Wakil Rektor III Dr Drs Rohidin SH MAg, dan Wakil Rektor IV Ir Wiryono Raharjo MArch PhD, Selasa (03/07/2018).(yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Persaingan di dunia global menuntut perguruan tinggi (PT) untuk terus berbenah. Salah satunya dengan melakukan internasionalisasi kampus dalam rangka menyiapkan warga global yang memiliki daya saing.

“Sekat antarnegara semkin pudar karena globalsasi. Karenanya skenario internasionalisasi disiapkan bagi organisasi dan warga untuk menjadi warga global. Semangat ini terus dijaga dan disesuaikan dengan konteks kekinian,” ungkap Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Fathul Wahid ST MSc PhD, didampingi Wakil Rektor I Dr Drs Imam Djati Widodo MEngSc, Wakil Rektor II Dr Zaenal Arifin MSi, Wakil Rektor III Dr Drs Rohidin SH MAg, dan Wakil Rektor IV Ir Wiryono Raharjo MArch PhD, Selasa (03/07/2018).

Sejumlah program digagas sebagai bentuk riil internasionalisasi kampus. Diantaranya melalui akreditasi internasional program studi, implementasi kerjasama internasional, peningkatan peran internasional institusi, serta fasilitasi dosen dan mahasiswa untuk berkontribusi dalam komunitas akademik global.

Selain itu penguatan International Program (IP) yang ditawarkan 10 program studi. Yakni Manajemen, Akuntansi, Ilmu Ekonomi, Ilmu Hukum, Teknik Industri, Teknik Sipil, Arsitektur, Ahwal al-Syakhsiyah (Hukum Keluarga Islam), Ilmu Komunikasi, dan Hubungan Internasional.

UII menyediakan beasiswa bagi lima orang mahasiswa asal Palestina. Program itu digulurkan melalui berbagai kerjasama dengan beberapa perguruan tinggi asing, baik mengenai penelitian, peningkatan kapasitas dosen dan mahasiswa, hingga kerjasama yang berkaitan dengan entrepreneurial unversity.

“Kami juga memfasilitasi dosen guna mempresentasikan hasil riset dan gagasan mereka dalam beragam konferensi internasional dan publikasi internasional,” jelasnya.

Sementara Rohidin mengungkapkan, internasionalisasi tersebut juga menjadi upaya mengenalkan Islam yang toleran dan elegan. Menyandang predikat Islam didalam nama kampus, UII ingin menunjukkan Islam bukan sebagai agama yang radikal seperti yang dipersepsikan sebagian dunia internasional.

“Kami ingin memperkenalkan ke komunitas internasional tentang Islam sebagai agama yang cinta damai selain mengupayakan pengintegrasian antara ilmu pengetahuan dengan Islam. Islam yang kami dalami dalam hal ini lebih berat ke dunia akademik. Bukan Islam semata-mata sebagai agama, politik, maupun ideologi,” imbuhnya.(yve)