ISI Gelar Event Menabuh Gamelan 24 Jam

667
Konferensi pers event menabuh gamelan 24 jam di ISI Yogyakarta, Rabu (30/8/2017). (sari wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta akan menggelar event menabuh gamelan selama 24 jam. Sound of The Universe,  nama acara itu, dijadwalkan mulai digeber 5 September pukul 20:00 dan berakhir 6 September pukul 20:00.

Akan tampil 29 grup karawitan berpengalaman dan mumpuni dari
wilayah DIY, Klaten, Solo, Jakarta, Bandung. Jumlah pengrawit mencapai 1.000 orang.

Sound of The Universe melibatkan 5 grup profesional, 3 grup kelompok anak-anak, 5 grup karawitan wanita, 3 grup karawitan SMA, 13 UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) perguruan pinggi dan satu grup hadroh. Dalam event itu akan ditampilkan  pula gamelan terbaik di dunia yakni Kanjeng Kiai Madu. Perangkat gamelan ini di dunia hanya ada dua yakni di ISI Yogyakarta  dan STSI Solo.

Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta, Prof  Yudi Ariani,
dalam konferensi pers di kampus tersebut, Rabu (30/8/2017), Mengatakan acara ini dilaksanakan di Jurusan Seni Karawitan. “Kami pilih tanggal 5 September  untuk memperingati 40 tahun gending Puspawarna berada di luar angkasa,” ungkapnya.

Baca Juga :  Pesona Jagalan, Serasa Kembali ke Masa Kerajaan

Pada 1977, pesawat tanpa awak Voyager diluncurkan oleh NASA
Amerika. “Pesawat ini digunakan sebagai media untuk menjelajahi sistem tata surya dan menjalin kontak dengan makhluk yang kemungkinan hidup di luar bumi,” kata Yudi didampingi ketua panitia Drs Siswadi M Hum dan Art Director Dr Raharjo.

Menurut Yudi, astronom dari Universitas Cornell New York,  Carl Sagan, menyusun tim khusus untuk menyiapkan Voyager sebagai media untuk menyampaikan pesan bagi peradaban ekstraterestrial.

Pesawat tersebut dilengkapi alat pemutar data rekaman audio, salah satunya gending Puspawarna yang disandingkan dengan musik dunia lainnya.

Puspawarna merupakan gending kebesaran Keraton Mangkunegaran dan Pakualaman  yang diciptakan oleh Mangkunegara IV. Kemudian gending direkam di Keraton Pakualaman.
“Salah seorang empu karawitan yang menjadi pioner perekaman adalah Wasitodiningrat,  secara kebetulan dia adalah Pengageng Langenpraja Pakualaman. Atas jasanya tersebut seorang komponis Lou Harison membuat proposal ke NASA agar nama Wasitodiningrat diabadikan menjadi nama bintang,” jelasnya.

Baca Juga :  Jumlah TPS Akan Ditambah

Etnomusikolog Prof Robert E Brown mengusulkan gending Ketawang Puspawarna gubahan Wasitodiningrat dimuat di wahana penjelajah Voyager II. Dua usulan itu diterima NASA, maka jadilah Wasitodiningrat sebagai bintang dalam  pengertian denotatif dan konotatif.

Siswadi mengatakan tujuan dari kegiatan ini adalah mengikat silaturahmi antarseniman serta membangun kebersamaan antara seniman karawitan di DIY dan sekitarnya dengan   ISI Yogyakarta.

“Acara ini untuk mengingatkan kembali bahwa karawitan telah mendunia dan diakui dunia sebagai warisan budaya yang luhur,” katanya.

Sedangkan Raharjo mengatakan acara akan dibuka oleh kelompok
karawitan Bali KPB Purantara Yogyakarta dan Sanggar  tari Bali
Saraswati Yogyakarta. “Kita akan sediakan empat perangkat gamelan masing-masing dua pangkon slendro dan pelog,” katanya. (sari wijaya)