Jadi Penyair Muda? Iqbal Membuktikannya

162

KORANBERNAS.ID — Menjadi penyair di usia belia mungkin bukan jadi pilihan dari banyak anak-anak. Ketidaktertarikan mereka akan sastra dan bahasa Indonesia seringkali jadi alasan minimnya jumlah penyair cilik.

Namun tidak demikian dengan Muhammad Iqbal Lathafa. Siswa Kelas VII SMPN 5 Yogyakarta tersebut justru sangat menyukai puisi sejak kecil.

Kepiawaiannya membuat dan membaca puisi pun menorehkan berbagai penghargaan mulai dari tingkat kota hingga nasional. Sebut saja Juara I Puitisasi Saritilawah Alquran pada 2015, Juara II Lomba Bercerita tingkat SD se-DIY pada 2016 dan Juara II Lomba Cipta dan Baca Puisi Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) di Manado pada 2016.

Putra pasangan Didik Haribowo dan Dewi Lestari tersebut bahkan sudah memiliki antologi puisi pertamanya. Dibimbing oleh penyair Evi Idawati, Iqbal meluncurkan antologi puisi berjudul “Beragam Jiwa Dalam Satu Bendera” yang berisi 48 puisi di Balai Bahasa Yogyakarta (BBY), Minggu (14/01/2018).

Selain pembacaan puisi, dalam acara tersebut juga digelar dialog menghadirkan Dr Else Liliani, Dosen Sastra Anak dari UNY serta Herry Mardianto, peneliti dari BBY.

Baca Juga :  Presiden Jagong Manten Putri Mensesneg

“Saya tidak hanya suka membaca namun menuliskannya jadi puisi sejak kelas lima SD,” ujarnya.

Siswa yang mengidolakan Rendra tersebut kemudian mengikuti berbagai ajang lomba. Dia bersama kawan-kawan sekolahnya juga membuat antologi puisi dengan judul “Kurcaci Berpuisi”.

“Saya ingin jadi pujanga nantinya,” ujar anak kelahiran Sleman, 6 September 2004 tersebut.

Sementara Evi mengungkapkan, Iqbal menjadi salah satu muridnya di Sekolah Puisi Evi Idawati miliknya. Bersama anak-anak lain dari tingkat SD hingga perguruan tinggi (PT), mereka belajar sastra dan bahasa Indonesia dengan metode yang dikembangkan Evi.

“Dengan metode visual dan mengajak mereka untuk berdialog akan berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar, anak-anak tersebut bisa dengan cepat menuangkan idenya dalam puisi. Bahkan tak sampai sepuluh menit,” jelasnya.

Pembina Puisi Untuk Anak-Anak di Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (disdikpora) DIY itu menjelaskan, beragam pengalamannya sebagai penyair yang dituangkan dalam silabus di sekolah tersebut, anak-anak diajak belajar tata-cara bermain kata, memilih diksi. Selain itu mengembangkan imajinasi menemukan metafor-metafor baru.

Baca Juga :  Asian Games Ubah Perilaku Berlalu Lintas

Berbagai metafor baru tersebut seringkali bagi sebagian anak tidak pernah terbayangkan. Namun dengan stimulan gambar-gambar artistik, maka mereka bisa membuat pusi sesuai dengan imajinasinya.

“Misalnya saya memberikan visualisasi tentang afrika, anak-anak kemudian mengembangkan imajinasi tentang keberagaman negara sesuai apa yang mereka lihat untuk kemudian mereka tuis dalam puisi,” tandasnya.

Tutor di BBY itu berharap akan semakin banyak anak seperti Iqbal yang lahir. Sehingga khasanah dunia sastra dan bahasa akan semakin berkembang dan lestari karena regenerasi.

“Diharapkan akan semakin banyak generasi muda yang mengakrabi dan membangun ketertarikannya akan bahasa dan sastra,” ungkapnya.

Dewi sebagai orang tua mendukung penuh akan ketertarikan putra sulungnya tersebut akan dunia sastra. Dia dan suaminya memberikan kebebasan pada Iqbal untuk mengembangkan bakat dan minatnya.

“Mengalir saja apa yang diinginkan iqbal. Semoga anak kami bisa terus berkarya, kami akan selalu mendukung apa cita-citanya,” imbuhnya.(yve)