Jadi Relawan Nyamuk, Apa Itu ?

250
Relawan nyamuk Field Entimology EDP Aedes Aegepty ber Wolbhachia. (istimewa)

KORAN BERNAS.ID — Semua orang pasti pernah merasakan betapa gatal dan panasnya digigit nyamuk. Juga meninggalkan bentol-bentol meski hanya digigit satu atau dua nyamuk. Pasti tidak enak rasanya dan tidak ada yang ingin jadi korban.

Namun ternyata ada yang rela menjadi relawan untuk digigit nyamuk. Masak sih? Bukan hanya satu dua, tetapi lebih dari seratus nyamuk. Terus bagaimana rasanya? Meskipun sengaja digigitkan, ternyata terasa sakit juga.

“Ya tetep bentol-bentol dan panas. Tetapi disediakan salep, obat penawarnya,” kata Bambang Sumardiko dan Dwi Hartanto yang secara tidak sengaja ketemu Koran Bernas saat dia mengecek ember-ember berisi telur nyamuk yang dititipkan pada masyarakat di wilayah Sorosutan Kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Keduanya merupakan dua di antara banyak relawan di Field Entimology EDP (Eliminate Dengue Project) Aedes Aegepty ber Wolbhachia UGM. Menurut Bambang, biasanya pemberian makan nyamuk berlangsung tiap Kamis di kantornya Sekip Yogyakarta.

Caranya, tangan atau kaki ditumpangkan di atas kotak berisi ratusan nyamuk. Pemberian makan ini berlangsung antara 15 sampai 20 menit. Ada lebih dari seratus nyamuk menggigit relawan. Kalau nyamuknya belum gemuk oleh darah, pemberian makan pun menurut Bambang harus diulangi.

Baca Juga :  Serunya Gathering Dihibur Biduan Dangdut

Untuk menjadi relawan, ada syaratnya. Belum pernah menderita DBD, juga tidak alergi. Itu semua merupakan bagian dari proyek meminimalisasi merebaknya kasus DBD. Nyamuk yang sudah gendut nantinya akan diteliti di laboratorium, dibelah dengan peralatan khusus.

Dengan rekayasa teknologii canggih tersebut, nantinya nyamuk aedes aegepty betina yang kawin dengan nyamuk berwolbachia, telurnya tidak akan bisa menetas. Dengan demikian populasi nyamuk aedes aegepty sebagai penular virus DBD pun akan terus berkurang.

Penelitian ini dilakukan di 37 kelurahan se Kota Yohyakarta. Salah satunya adalah Kelurahan Sorosutan yang pernah dinyatakan sebagai wilayah endemi DBD. Di wilayah itu tercatat beberapa penduduk menjadi korban meninggal akibat DBD.

Proyek Panjang DBD

Proyek penanggulangan DBD dengan rekomendasi WHO, badan kesehatan dunia ini memakan waktu panjang. Setelsh diawali dengan berbagai survai, tahun 2017 merupakan awal pelepasan nyamuk wolbachia. Tahun 2018 mrnjadi tahun pemantauan dan tahun 2019 akan dilihat hasilnya seberapa usaha ini mampu menekan kasus DBD.

Baca Juga :  KID Hentikan Sengketa Informasi Bandara

Upaya ini harus dilakukan berkesinambubgan secara cepat, mengingat siklus perkembangbiakan nyamuk sangat cepat. Telur nyamuk dalam air menetas dalam empat hari menjadi jentik, menjadi pupa dan tiga hari kemudian nyamuk sudah siap terbang untuk menggigit manusia. Tetapi setelah kawin dengan nyamuk wolbachia, telur nyamuk aedes aegepty tidak akan menetas. Sedang nyamuk betinanya aman bagi manusia.

Baik Bambang maupun Dwi Hartanto ternyata tidak berlatar belakang pendidikan bidang kesehatan. Bambang, pria asal Gunungkidul yang akrab disapa Nguyen itu semula bekerja di budang pariwisata. Sehingga dia pandai berkomunikasi dengan masyarakat sesuai yang dibutuhkan dalam proyek ini.

Sedang Dwi Hartanto asal Klaten ini, merupakan lulusan STM. Namun mereka merasa nyaman bekerja di bidang ini. Tentu dengan harapan ke depan masyarakat akan terhindar dari ancaman DBD.(yve)