Jalur Baru Trans Jogja Masih Sepi Penumpang

Halte bus Terminal Jombor sedang dibongkar untuk pindah lokasi. Penumpang bus Trans jalur tertentu harus turun di luar halte dengan ancik-ancik kursi dan papan kayu.(arie giyarto/koranbernas.id)

1588

KORAN BERNAS.ID–Jangkauan pelayanan angkutan umum bus Trans Jogja semakin luas dengan dibukanya jalur-jalur baru yang menjangkau sebagian kawasan pedesaan. Terdiri jalur 5A, 5B, 6A, 6B. Selain itu jalur 7, 8, 9, 10 dan 11.

Dengan tempat pemberangkatan terbagi  tiga yakni di halte Ambarketawang, Gamping Sleman yang masih dalam pembenahan, Terminal Jombor dan Terminal Giwangan..

Koranbernas.id yang kemarin mencoba jalur 6 berangkat dari terminal bekas Stasiun Ngabean, ke selatan, masuk Jalan Sugeng Jeroni, melintas depan komplek sekolah SMKI dan SMSR di Bugisan. Ke selatan menyeberang Ringroad Madukismo. Depan gedung pertemuan Candya Madu ke barat, menyusuri kawasan Gunung Sempu, sampai di beringin Kasihan Bantul ke utara. Melewati depan kampus UMY, kemudian istirahat di Ambarketawang. Wilayah tersebut selama ini belum terjamah Trans.

Sementara jalur 8, dari Stasiun Ngabean, masuk Jalan KHA Dahlan, Bhayangkara ke utara sampai mentok, ke kiri, perempatan Badran ke barat. Kemudian masuk Jalan Godean, Demak Ijo ke utara. Menyusuri Ringroad utara, selatan RS UGM Kronggahan dan masuk terminal Jombor.

Di lintasan tersebut ada beberapa portabel tempat penumpang turun dan naik. Di antaranya di Soragan dekat Mirota Kampus Godean, timur SPBU Tatabumi, Demakijo dan timur perempatan Kronggahan.

Dari Terminal Jombor, jalur 9 ke arah selatan, masuk Jalan Magelang dengan halte depan TVRI dan Karangwaru serta Samsat. Masuk Jalan Notoyudan dan Jalan Ngampilan serta masuk Terminal Serangan.

Lalu ke selatan, Jokteng Kulon ke kiri, Prawirotaman, masuk Ringroad selatan dan berakhir di Terminal Giwangan.

Relatif sepi

Meski sudah beberapa bulan, kemungkinan kurangnya sosialisasi sehingga jalur-jalur baru itu relatif masih sepi penumpang.

“Juga mungkin karena portabelnya masih terbatas. Sehingga warga yang wilayahnya terlintasi jalur baru belum bisa memanfaatkan karena portabel jauh,” kata Bagus, driver bus jalur 8 Rabu (09/08/2017) siang menjawab pertanyaan Koranbernas.id, di atas bus yang terus melaju. Selain itu mungkin juga armadanya hanya tiga, sehingga intervalnya agak lama.

Tentang masih terbatasnya tempat penumpag naik turun itu juga dibenarkan oleh Cana, driver jalur 9. Dicontohkan, dari halte Samsat sampai Terminal Serangan tidak ada portable.  Juga dari Jokteng Kulon hanya ada satu portabel di timur Pasar Gading.

Menyusuri Jalan Prawirotaman sampai Ringroad selatan juga tidak ada. Menuju terminal Giwangan, hanya ada satu di dekat Masjid Ahmad Dahlan milik UAD.

“Sebenarnya sayang, warga yang ada di lintasan belum bisa maksimal menikmati fasilitas angkutan umum ber-AC dengan tarif sangat murah,” kata Cana.

Bagi penumpang umum hanya Rp 3.500 bisa keliling DIY sepanjang jalurnya ada dengan sambung jalur tanpa keluar dari halte. Untuk pelanggan dengan kartu bahkan hanya Rp 2.700, dan mahasiswa pelajar lebih murah lagi.

Baik Bagus maupun Cana menyadari, jalur-jalur baru ini memang masih dalam taraf penataan. Kalau sudah selesai, mereka optimis dengan semakin meluasnya informasi dan bertambahnya tempat naik turun penumpang maupun tambahan armada, akan jauh lebih banyak lagi masyarakat yang bisa menikmati keberadaan bus Trans yang sebagian besar sudah dengan bus-bus baru.. Untuk jalur 9 kini baru dengan empat armada. (arie giyarto/sm)