Jamu Bagolan yang Terlupakan

794
Ny Tutik Mardiyati penjual jamu bagolan atau jamu peras di Pasar Sentul Yogyakarta. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Bagi warga Kota Yogyakarta generasi  old tak ada yang tidak kenal jamu bagolan. Jamu Jawa peres di tempat dengan  aneka ramuan itu selalu tersedia di setiap pasar tradisional.

Bahkan tak hanya satu-dua, di satu pasar sering terdapat tiga penjual sekaligus. Semuanya wanita yang menggendong dagangannya jalan kaki setiap pagi. Sore hari ada juga penjual jamu bagolan di berbagai tempat.

Tapi sekarang, penjual jamu bagolan sudah berkurang jumlahnya. Sebut saja Jamu Mbah Ima di Jalan Sukun, penjual jamu di halaman Pasar Sentul malam hari, di selatan perempatan Lempuyangan. Atau Jamu Ginggang yang sangat terkenal itu.

Dulu, sebagian besar penduduk menyelesaikan masalah kesehatannya cukup dengan jamu bagolan. Pegel linu, adhem panas, kena cangkrang, pusing, mual, tidak doyan makan ada jamunya. Wanita yang ingin langsing, ada galian singset atau kunir asem.

Jika terkena batuk tersedia watukan dengan inggu yang mujarab. Badan tidak enak bisa minum sawan tahun. Ibu yang sedang menyusui memperlancar Air Susu Ibu (ASI) dengan uyub-uyub atau tapel susu.  Perut sebah, ada jamu daun kates yang bisa mengatasinya. Lama tidak hamil ada jamu anyep-anyep yang bisa menyuburkan kandungan.

“Pokoknya semua jenis penyakit, larinya ke jamu peres. Jarang yang ke dokter,” kata Ny Hardjo (76), yang sejak muda menjadi konsumen jamu bagolan menjawab pertanyaan koranbernas, Kamis (22/3).

Banyak penjual jamu yang “pensiun”, karena tidak ada yang meneruskan berjualan ya sudah sampai di situ. Tapi ada pula yang digantikan oleh generasi muda sehingga bisa lestari hingga kini.

Salah seorang di antaranya adalah Tutik Mardiyati (42). Wanita yang tinggal di Sorowajan Banguntapan Bantul itu sudah tiga tahun berjualan jamu tradisional bagolan di Pasar Sentul Yogyakarta. Awalnya dia berada di belakang layar membantu neneknya.

“Bermula sejak masih SMA, saya membantu nenek saya, Mbah Wiryosumarto yang jualan jamu di Pasar Lempuyangan,” katanya.

Artinya, Tutik sejak remaja sudah sangat familiar dengan urusan jamu. Akrab dengan empon-empon seperti jahe, adas, pulawaras, temu ireng, temulawak, kencur, inggu, kunyit, asam.

“Semuanya kami siapkan dari empon-empon segar, meski di pasar memang ada yang kering dan siap pakai. Temu lawak misalnya, hanya yang masih segar saya parut. Beda rasanya dengan yang sudah kering, meski memang lebih praktis,” kata Tutik di Pasar Sentul pojok lor kulon.

Setiap kali menyiapkan jamu, istri dari Nono seorang karyawan di lingkungan BPS Bantul ini mempertahankan resep yang dipelajari dari neneknya. Meski ilmu kedokteran sangat maju, ternyata masih banyak yang minum jamu untuk kebugaran maupun kesembuhan penyakitnya.

Buktinya, dia yang mulai menggelar dagangan pukul 06:30 rata-rata sudah habis pukul 10:00. Kalaupun tersisa kemudian dibungkus plastik sesuai jenisnya. Biasanya masih ada saja orang yang mencarinya.

Jamu watukan siap minum dalam wadah bathok kelapa, bukan gelas. (arie giyarto/koranbernas.id)

Bersih dan matang

Selain ramah melayani pembeli, Tutik juga selalu menjaga kebersihan termasuk peralatannya. Semuanya bersih. Bathok atau cangkang kelapa untuk minum jamu konsumen, secara berkala selalu dicuci air panas.

“Supaya benar-benar bersih,” kata Tutik sembari mencuci peralatan kemudian dikeringkan dengan serbet kering dan bersih, kemudian disimpan di almari dan dipakai esok harinya. Untuk ngejeri jamu dia menggunakan air matang.

Setiap hari rata-rata laku 100 bathok aneka jamu. “Paling banyak untuk kelancaran ASI, juga pegel linu,” katanya. Sedangkan bila musim flu dan batuk, jamu jenis watukan paling laris.

Lalu berapa omzetnya? Tanpa menyebut angka, sambil tersenyum Tutik yang tampak lebih muda dari usianya itu bilang, cukuplah untuk jajan dan membantu ekonomi keluarga dengan satu anak.

Tentang khasiat jamu, Tutik dan keluarga merasakannya sendiri. “Saya dulu setelah keguguran, lama tidak hamil. Saya minum anyep-anyep, jamu penyubur kandungan. Bersyukur akhirnya Allah maringi momongan,” katanya dengan nada sukacita.

Karena merasakan hasil usaha jamu bagolan lumayan menjanjikan, ibu seorang anak ini akan terus mengembangkan usahanya.

Tidak repot menyiapkan aneka macam empon-empon sesuai peruntukannya? “Tidak, asal sudah tahu ilmunya. Mana yang bisa dicicil sore atau malam dan mana yang harus disiapkan sebelum berangkat,” kata Tutik.

Dengan demikian waktu pun bisa diatur, mana untuk mencari nafkah dan mana untuk rumah tangga, termasuk mengurus anak semata wayang sehingga dia tidak merasa kehilangan ibu yang setiap hari urusannya pating clekunik.

Ny Tutik memulai jualan jamu atas izin suami. Sempat ada rasa khawatir suami malu istrinya jadi penjual jamu. Yang penting halal, kenapa harus malu? Kalimat itu terucap suami ketika Tutik taren ingin memulai usahanya.

Bukan sekadar memberi izin tetapi sekaligus Nono merasa bangga istrinya bisa berkontribusi melestarikan kearifan lokal dan tradisi nenek moyang yang sudah nyata khasiatnya.

Memang Tutik sendiri belum bisa membayangkan, andai usianya terus bertambah dalam hitungan dua dasawarsa ke depan, masih kuatkah dia meramu kemudian ke pasar untuk menjualnya?

Siapa yang akan memegang estafet usahanya? Apabila sejak awal dipersiapkan dia yakin jamu tradisional non-pabrikan tetap akan bertahan.

Seperti halnya semangat Tutik yang dulu bersekolah di SMA  Angkasa di Adisutjipto tiap hari jalan kaki dari Sorowajan, toh masih punya waktu untuk membantu neneknya tanpa mengganggu waktu belajarnya.

Meskipun setelah lulus SMA dia harus mengubur keinginannya untuk kuliah. Karena orang tua zaman dulu belum melihat sisi manfaatnya wanita sekolah tinggi-tinggi. “Apalagi biaya memang tidak ada,”kata Tutik.

Dia teringat nasihat simbah, yang penting bisa mencari nafkah. Bagi Tutik hal itu sudah ditunjukkannya. Dia juga pernah jadi karyawati di rental komputer. Meskipun akhirnya pilihannya jatuh pada pelestarian kearifan lokal nenek moyang.

Jualan jamu dengan tarif tertinggi Rp 7.000 sekali minum, selain dapat banyak uang badannya juga selalu kelihatan sehat dan bugar. Kalau tidak ada generasi muda melanjutkannya, lalu siapa lagi?  (sol)