Japangmas Dongkrak Ekonomi Petani

126
Wakil Bupati Bantul, H Abdul Halim Muslih (ketiga kanan,red) melihat pengoperasian alat giling padi saat peluncuran program CSR PT Pertamina (Persero) TBBM Rewulu Jaminan Pangan Masyarakat (Japangmas) di Klomtan “Boga Lestari” Dusun Samben, Desa Argomulyo, Sedayu Bantul, Kamis (10/5/2018).(sari wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID–PT Pertamina  (Persero) TBBM Rewulu meluncurkan program Jaminan Pangan Masyarakat (Japangmas) di Kelompok Tani “Boga Lestari” Dusun Samben, Desa Argomulyo, Sedayu Bantul, Kamis (10/5/2018).

Peluncuran program dilakukan  oleh Wakil Bupati Bantul, H Abdul Halim Muslih dan dihadiri  Camat Sedayu Drs Fauzan Muarifin, Danramil Kapten (Inf) Kusmin, Kapolsek Kompol Sugiarto Amd,  Lurah Desa Argomulyo Bambang Sarwono dan ratusan petani setempat. Juga pihak PT Pertamina TBBM Rewulu.

Lurah Argomulyo Bambang Sarwono  mengatakan program CSR Partamina bukanlah pertama kali ini dilakukan. Namun  sebelumnya di wilayah Argomulyo juga telah dilaksanakan  program CSR pada bidang yang lain seperti pengolahan sampah,  perikanan, UMKM serta sektor lainnya.

“Di Dusun Samben, sebelumnya juga  sudah ada program ketahanan benih mandiri, yang kami harapkan bisa memberikan suplai benih  secara mandiri di wilayah Argomulyo. Bahkan bisa mensuplai wilayah lain,”kata Bambang.

Jika dikombinasi dengan program Japangmas tentu dampaknya akan semakin signifikan untuk mendongkrak ekonomi petani.

Sementara Operation Head PT Pertamina (Persero) TBBM Rewulu, Bambang Soeprijono mengatakan program CSR yang mereka lakukan n meliputi banyak bidang. Bukan hanya pertanian namun juga sektor perikanan, pembinaan jamu tradisional, pengembangan budidaya jamur serta pengembangan desa wisata.

“CSR kami lakukan untuk lingkungan di sekitar PT Pertamina TBBM Rewulu yakni empat desa di Kecamatan Sedayu serta empat desa di wilayah Sleman,”kata Bambang.

Baca Juga :  Ingkung Jadi Andalan Kuliner Guwosari

Khusus untuk program Japangmas sendiri diharapkan bisa meningkatkan ekonomi masyarakat khususnya petani.

“Karena biasanya yang menikmati keuntungan dari sektor pertanian bukanlah para petaninya, namun pihak lain karena panjangnya mata rantai yang ada. Untuk itu program Pajangmas ini untuk memotong adanya mata rantai tersebut,”jelasnya.

Program Japangmas diharapkan Bambang memberi nilai tambah dengan melibatkan juga kalangan muda seperti karang taruna dalam pelaksanaan sehingga lebih mencintai  sektor pertanian. Tentu pertanian yang modern.

“Program ini bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang berdaulat pangan dan mandiri pangan. Jadi gabah hasil panen dari petani dibeli kelompok tani, dioleh dan akan  kembali dijual  kepada  petani atau costumer. Kita support untuk itu,” katanya.

Jadi selama ini, lanjut Bambang petani selalu  pada posisi ‘dirugikan’ karena dari keuntungan penjualan beras, sebanyak  85 persen  dinikmati pihak luar.

“Inilah yang akan kita lakukan yakni ita potong  mata rantainya, sehingga keuntungan masuk ke petani,”paparnya.

Sementara Wakil Bupati mengatakan banyak tantangan dalam bidang pertanian, diantaranya adalah peningkatan kesejahteraan petani.

“Maka dengan adanya program Japangmas, harapan kita akan terjadi perbaikan pada sisi manajemen baik on farm ataupun off farm. Karena dua manajemen itu sampai  hari ini banyak tantangan yang harus dihadapi bersama-sama,”katanya.

Baca Juga :  Desa Lumbungrejo Maju ke Tingkat DIY

Persoalan lain,berdasarkan data dari BPS, bahwa kepemilikan lahan pertanian di Bantul bahkan DIY hanya rata-rata 2.000 M2 tiap petani. Dengan lahan yang demikian sempit, tentu petani  harus memutar otak agar lahan yang sempit ini bisa di manage sedemikian rupa sehingga  mampu menghadirkan kesejahteraan yang memadai.

“Dengan adanya bantuan teknologi dan  inovasi, kita harus optimis ini bisa meningkatkan kesejahteraan petani kita,”katanya.

Karena dengan bantuan teknologi, diyakini akan mampu meningkatkan kesejahteraan dan hasil pertaian. Misalnya saja negara Jepang dengan lahan terbatas bisa maju dan petaninya sejahtera.

“Agar lebih menarik dan juga bisa diinovasi misal pertanian digabung pariwisata seperti di Sukorame Dlingo. Di sana lahan pertanian diberi jembatan bambu sehingga bisa menjadi wahana  wisata,” katanya.

Ada juga di Bambanglipuro tempat makan di tengah sawah yang menarik pengunjung.

“Ini adalah bentuk inovasi dalam bidang  pertanian agar memiliki nilai tambah dan meningkatkan kesejahteraan petani,” kata Wabup.

Selain tentunya juga menarik kalangan muda dalam bidang pertanian, karena pertanian tidak ‘mligi’, namun telah dikombinasi dengan sektor lain. (yve)