Jaring Anak Muda, Festival Makanan Tradisional Digelar di Mal

92
Pembukaan Festival Kuliner Makanan Tradisional DIY 2018 yang berlangsung di JCM. (dwi suyono/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) DIY mengadakan Festival Kuliner Makanan Tradisional DIY 2018. Pameran bertema Penguatan Identitas Budaya Melalui Pengenalan Makanan Tradisional itu diselenggarakan di Atrium Jogja City Mall (JCM) Yogyakarta.

Event tersebut sengaja digelar di mal dengan harapan dapat menjaring anak-anak muda mengingat pusat perbelanjaan menjadi salah satu tempat mereka berkumpul.

Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) DIY Dra Zaimul Azzah M Hum mengatakan, festival berlangsung Rabu hingga Sabtu 26-29 September.

Adapun latar belakang penyelenggaraan kegiatan ini mengingat makanan tradisional merupakan salah satu wujud keberagaman budaya di Indonesia.

“Makanan tradisional menarik untuk dikenal secara lebih jauh, khususnya di kalangan generasi muda sebagai penyambung tongkat estafet pembangunan bangsa,” ujarnya di sela-sela pembukaan festival, Rabu (26/09/2018).

Menurut dia, setiap daerah memiliki keunikan dan keragaman budaya tersendiri. Keragaman inilah aset yang bernilai bagi bangsa.

“Makanan tradisional adalah aset budaya, maka generasi muda wajib mengetahui dan berbangga,” kata Zaimul Azzah.

Pada dasarnya makanan tidak hanya berfungsi untuk memuaskan rasa lapar, akan tetapi membawa serta kebiasaan lokal, lingkungan  dan adat istiadat masyarakatnya.

Baca Juga :  Ronde yang Asli Selalu “Ngangeni”

DIY memiliki beragam makanan tradisional dan masing-masing kabupaten/kota memiliki unggulan. Kabupaten Gunungkidul terkenal dengan makanan tradisional thiwul dan sega abang, Kulonprogo geblek dan tempe benguk.

Kabupaten Bantul memiliki geplak dan wedang uwuh, Kabupaten Sleman punya jadah tempe dan slondok. Sedangkan Kota Yogyakarta terkenal dengan gudegnya.

Zaimul Azzah merasa prihatin makanan tradisional mulai ditinggalkan oleh kalangan generasi muda. Sebagian dari mereka bahkan tidak lagi mengenal bentuk maupun rasanya apalagi menggemarinya. Ini menjadi permasalahan yang menarik untuk diperhatikan.

“Pengenalan makanan tradisional kepada generasi muda  diharapkan menjadi penguatan identitas budaya lokal, oleh karena itu kegiatan Festival Kuliner Makanan Tradisional DIY 2018 ini diselenggarakan,” paparnya.

Dia menambahkan makanan tradisional memiliki nilai budaya yang sangat berhubungan dengan alam.

Melalui ajang festival kali ini, BPNB DIY memberikan ruang bagi para perajin makanan tradisional agar mampu berkembang sesuai perkembangan zaman.

Zaimul Azzah bersama Singgih Raharjo meninjau stan Festival Kuliner Makanan Tradisional. (dwi suyono/koranbernas.id)

Wakil Kepala Dinas Kebudayaan DIY Singgih Raharjo mengapresiasi digelarnya kegiatan tersebut. Berbagai organisasi dan instansi perlu bersinergi dengan Dinas Kebudayaan DIY untuk melakukan pembinaan.

Baca Juga :  Awas, Narkoba di Lingkungan Pelajar

Menurut Singgih, kuliner merupakan obyek kebudayaan. “Kuliner adalah satu dari tujuh obyek kebudayaan yang merupakan warisan kebudayaan,” kata Singgih.

Ketua Pokja Festival Makanan Tradisional DIY Tahun 2018, Th Ani Larasati M Psi, menambahkan pada festival kuliner ini masing-masing kabupaten/kota mengirimkan lima UKM yang bergerak di bidang makanan tradisional.

“Salah satu tujuan diselenggarakannya festival ini untuk memberikan ruang bagi para perajin makanan tradisional di DIY agar berkembang dan tetap eksis,” ujarnya.

Selain itu, juga untuk mengajak masyarakat Yogyakarta mengenali asal usul, bahan baku dan proses pembuatan makanan sehari-hari dari tiap kabupaten/kota se-DIY.

Dengan begitu, makanan tradisional digemari oleh masyarakat, mampu berkembang, meningkat mutunya serta memperoleh penggemar. Selain itu, juga tetap eksis dan lestari serta mampu bersaing dengan makanan modern.

Gelaran Festival Kuliner Makanan Tradisional DIY 2018 dimeriahkan lomba, talkshow maupun pertunjukan kesenian tradisional. Pemenang lomba memperoleh hadiah uang pembinaan, trofi serta piagam. (sol)