Jati Platinum Lima Tahun Bisa Panen

563
Anggota Komisi VII DPR RI Agus Sulistiyono menanam bibit pohon jati platinum di Desa Kedungpoh , Jumat (15/12/2017). (istimewa)

KORANBERNAS.ID – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama Komisi VII DPR RI dan masyarakat, mempelopori penanaman jati platinum. Jati jenis ini sudah bisa dipanen dalam waktu relatif singkat, lima tahun.

Mengawali gerakan tersebut, Jumat (15/12/2017), ditanam sejumlah 2.000 bibit pohon jati tersebut di Desa Kedungpoh Nglipar Gunungkidul.

Edi Hidayat dari LIPI mengatakan, jati platinum merupakan hasil rekayasa genetika dengan cara mutasi radiasi sinar Gamma. Dalam proses tersebut pihaknya bekerja sama dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), kemudian diperbanyak dengan kultur jaringan sehingga mutu bibitnya seragam.

“Kegiatan ini alih teknologi melalui diseminasi ini tujuannya untuk meningkatkan dan mempublikasikan hasil penelitian, yang tidak hanya bisa dimanfaatkan masyarakat namun juga kalangan industri maupun pemerintah,” ujarnya.

Dia menjelaskan, jati platinum bisa mencapai diameter 30 sentimeter hanya dalam waktu lima tahun, sehingga bisa dipanen sebagai veneer untuk bahan bangunan.

Di tempat yang sama, anggota Komisi VII DPR RI, Agus Sulistiyono, menanam jati platinum banyak untungnya. Secara ekologis, juga mampu memenuhi komitmen nasional mereduksi emisi karbon hingga 26 persen sampai 2020, atau setara 0,67 giga ton karbon.

Komisi VII DPR RI yang secara kelembagaan bermitra dengan LIPI, kata Agus, memberikan dukungan program tersebut. Hal ini mengingat desiminasi ilmu pengetahuan dan teknologi bermanfaat bagi masyarakat serta mampu meningkatkan potensi daerah.

“Hasil-hasil penelitian tepat guna LIPI terbukti dapat memperkuat pengembangan potensi daerah, terutama untuk peningkatan ekonomi masyarakat,” kata dia.

Mantan anggota DPRD DIY ini berharap ke depan lebih banyak lagi jati platinum ditanam di Desa Kedungpoh. Selain lahannya luas, manfaatnya juga besar. “Setiap hektar pohon jati yang berusia maksimal sepuluh tahun ini bisa menyerap karbon 170 ton C berat jenis 0,8 C konten 0,5,” terangnya.

Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu mengungkapkan pentingnya semua pihak peduli dengan isu lingkungan hidup termasuk pemanasan global serta efek rumah kaca.

Ketidakpedulian dengan isu tersebut sama saja dengan membiarkan terjadinya bencana seperti banjir, kekeringan, peningkatan suhu bumi dan naiknya permukaan laut.

“Salah satu cara mengatasi pemanasan global adalah menanam pohon. Menanam pohon jati lebih baik. Bisa mengurangi pemanasan global. Bisa untuk investasi. Tanaman jati ini memiliki manfaat yang besar dari sisi ekonomi, ekosistem alam dan keberlangsungan hidup generasi,” tandasnya. (sol)