Jelang Idul Fitri, Industri Sagon dan Satu Kebumen Lipat Gandakan Produksi  

168
Aktivitas produksi roti Sagon dan Satu di Kebumen, Senin (28/05/2018). (Nanang WH/koranbernas.id)   

KORANBERNAS.ID–Lebaran dipastikan   konsumsi aneka  panganan atau makanan meningkat. Trend ini yang ditangkap perajin makanan khas di Kabupaten Kebumen.

Seorang perajin makanan khas, roti Sagon dan Satu berbahan kacang hijau, juga menangkap peluang ini. Mereka menambah jumlah produksi.

“Hari-hari biasa bahan baku kacang hijau rata- rata 4 kg. Menjelang Idul Fitri, saya menambah belanja bahan baku sebanyak 10 kg,“ kata Gumanti Asih (34), perajin makanan sagon dan  satu, Senin (28/05/2018).

Warga Desa Nampudadi, Kecamatan   Petanahan Kebumen ini, mengemas dua produk makanan menggunakan nama dagang  Zaya.

Meskipun menambah jumlah produksi, jumlah tenaga kerja perempuan setempat tidak ditambah. Asih memilih menambah jam kerja hingga sore hari, dari yang biasanya hanya setengah hari.

Baca Juga :  Korban Longsor Luk Ulo Bingung Rampungkan Rumah Pengganti

Asih meyakinkan, meskipun Sagon dan Satu makanan industri rumah tangga yang diproduksi dengan proses tradisional, tetapi segmen pasarnya sebagian besar kelompok menengah atas.

Karena itu, sebagian besar produknya tidak dijual dalam wujud curah. Sebagai perajin  makanan kualitas premium, menjual produknya  dengan kemasan yang apik nan mewah.

Lebaran tahun lalu dirinya mampu menjual 2.000 kemasan Sagon dan Satu, dengan berat tiap kemasan 200 gram. Lebaran tahun ini, diharapkan  bisa lebih meningkat.

“Ada permintaan pembelian Sagon dan Satu curah. Tapi Lebaran tahun ini saya batasi hanya 15 kg,“ kata Asih.

Sebenarnya permintaan Sagon dan Satu curah cukup tinggi. Tetapi pertimbangan promosi, agar produk rumah tangganya dikenal luas, penjualan curah harus dibatasi.

Baca Juga :  Ini Bukti, Kalau Kesejahteraan Masyarakat Kebumen Meningkat

Asih merasa yakin, dengan kemasan, produknya akan lebih banyak dikenal luas.

Asih mengungkapkan, industri rumah tangganya, lebih banyak memanfaatkan warga setempat/ibu-ibu. Memang ada alat produksi mekanik. Namun, drinya lebih senang dengan cara manual, agar tetap bisa mempekerjakan  masyarakat sekitar. (SM)