Jelantah Itu Berharga Puluhan Juta Rupiah

183
Eko Pambudi Direktur BUMDes Panggung Lestari, didampingi Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X saat menerima apresiasi dari CSR Bank BPD DIY beberapa waktu lalu. (istimewa)

KORANBERNAS.ID–Anda punya jelantah, minyak bekas penggorengan yang biasanya hanya dibuang?. Nanti dulu, jelantah dari segala macam bekas penggorengan ternyata berharga mahal. Di tangan orang kreatif yang mengumpulkannya dalam jumlah sangat melimpah, setiap tahun akumulasi nilainya bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Apa yang disampaikan Eko Pambudi, Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Panggung Lestari pada Diskusi Kebangsaan yang digelar Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta (PWSY) di Kampung Mataraman, Panggungharjo Sewon Bantul hari Senin (26/03/2018) membuat terperangah yang hadir.

Jelantah itu dikumpulkan massal oleh PKK Dasawisma di tingkat RT dan ditampung dalam Banktigor atau Bank Tilas Gorengan. Namun karena permintaan terlalu tinggi dibanding kemampuan desa, maka Panggung Lestari mengoptimalkan kemitraan dengan Bank Sampah Lintas Winongo Kota Yogyakarta yang setiap bulannya mencapai ratusan liter. Selain itu juga melebarkan sayapnya ke Wonosobo, termasuk dengan para pengepul dan perseorangan.

Begitu besar hasil memanfaatkan limbah sekaligus tambahan penghasilan, PKK Desa Timbulharjo minta agar Panggung Lestari menyosialisasikan hal itu kepada PKK seluruh Kabupaten Bantul.

Awalnya dia mengira jelantah akan diolah ulang menjadi minyak goreng curah. Tetapi Eko menjelaskan, setelah melalui berbagai macam proses, hasilnya menjadi bahan bakar alternatif dan bisa mengurangi polusi. Permintaan terhadap produk olahan dari jelantah inipun amat besar. Pihaknya bekerjasama dengan PT Danone Aqua, perusahaan skala nasional yang kebutuhannya berlanjut.

Pada tahun 2006 berhasil menyetor 36.000 liter. Tahun 2017 meningkat menjadi 42.000 liter dan 2018 ini diprediksi mampu meningkat lagi menjadi 50.000 liter.

Proses pengolahan minyak jelantah menjadi komoditi bernilai lebih tinggi. (istimewa)

Proses

Dihubungi koranbernas.id per telepon Senin (26/03/2018) malam, Eko Pambudi menjelaskan, jelantah itu harus melalui tiga proses produksi untuk siap pakai. Yakni dengan esterifikasi,  diolah dengan pendekatan kimia. Hasilnya bio diesel pengganti bahan bakar solar. Ada juga proses mikro filter, disaring dengan tiga komponen. Yakni karbon, resin dan tisu menghasilkan minyak 0,5 mikro yang penggunaannya harus dicampur solar dan mampu menurunkan polusi.  Ada lagi proses yang bisa menghasilkan bio oil.

Baca Juga :  Lokasi Proyek Disebut Rawan Longsor, Pengembang Siap Tuntut Pakar Geologi UGM

Dari berbagai proses produksi tersebut Panggung Lestari melakukan salah satu di antaranya. Ada unit bengkel yang mampu menyediakan peralatannya dengan memanfaatkan sumber daya manusia desa setempat. Termasuk penanganan produksinya.

Dari harga jelantah di tingkat warga Rp 4.000/liter itu, setelah ditambah ongkos produksi, ongkos kirim dan margin sekitar Rp 1.500, BUMDes Panggung Lestari bisa menjual Rp 7.250/liter.

“Kebutuhan masih sangat besar namun kemampuan penyediaan bahannya masih terbatas;” kata anak muda cerdas dan kreatif itu.

Bagaimana awalnya Panggung Lestari mengolah limbah jelantah tersebut?. Tahun 2005 ternyata Panggungharjo telah mengolah jarak kepyar menjadi bio diesel. Jarak kepyarnya ditanam di Jawa Timur, bekerjasama dengan lembaga yang menangani penanaman hutan. Ini berlangsung sampai 2008.

Kemudian dilanjutkan pengolahan biji nyamplung, juga menjadi bahan bakar alternatif.

“Pernah dicoba mobil Jogja – Jakarta pulang pergi tanpa hambatan,” kata Eko.

Buah nyamplungnya memanfaatkan tanaman hutan di sepanjang Jalan Daendels di Purworejo. Dari buah nyamplung yang harus sudah jatuh sendiri ke tanah, tidak diunduh, akhirnya Panggung Lestari dapat manfaat lebih banyak lagi.

Bekerjasama dengan Universitas Negeri  Sebelas Maret (UNS) Solo mampu mengolah buah nyamplung menjadi minyak bahan kosmetik. Harganya sangat mahal.

Masih ada berbagai usaha yang lain. Di antaranya membangun Kampung Mataraman seluas 6 hektar di atas tanah kas desa. Seluruh unit usaha di bawah BUMDes memanfaatkan sumber daya manusia dan hasil pertanian masyarakat.

Baca Juga :  Indonesia Tempat Pelatihan Program KB

Menurut Eko, mereka merupakan warga yang termarjinalkan. Untuk menjadi karyawan tidak ada persyaratan jenjang pendidikan. Tujuannya memanfaatkan SDM yang ada untuk meningkatkan kesejahteraan warga, mengurangi angka kemiskinan.

Seluruhnya ada 72 orang yang kini bisa mendapat rezeki dari berbagai usaha ini. Dengan standar gaji UM Kabupaten. Usaha ini sekaligus upaya menghapus garis kesenjangan antara kota Yogyakarta di sebelah utara ring road dan Panggungharjo di selatan ring road.

Dalam upaya melengkapi usaha meningkatkan derajat kehidupan warganya secara visioner di sana ada program satu rumah satu sarjana. Juga beasiswa bagi anak-anak putus sekolah.  Serta menangani pedagang-pedagang kecil terjerat rentenir bekerjasama dengan Bank BNI. Mereka dientaskan dari eksploitasi lintah darat itu.

Saat ini Panggung Lestari masih punya satu pekerjaan rumah. Yakni membangun homestay dan segala perangkatnya di atas tanah seluas 3 ha. Konsepnya menghadirkan suasana nostalgia zaman awal kerajaan Mataram. Jadi tanpa penerangan listrik, semua serba tradisional dan kembali pada zaman dulu. Karena tidak ada lagi penyertaan modal dari desa, usaha ini dijadwalkan baru dimulai tahun 2019 mendatang.

Mengingat begitu banyaknya amal usaha, pantaslah bila BUMDes Panggung Lestari pernah mendapat anugerah sebagai BUMDes Teladan Tingkat Nasional. Penyertaan modal yang totalnya Rp 212 juta dalam dua kali tahun anggaran kini sudah berkembang biak menjadi miliaran rupiah.

Anda ingin menikmati suasana masa lalu, mencicipi hidangan “ndesa” seperti oseng-oseng kembang gedang, daun genjer, sayur lompong, aneka lodeh, minuman jamu di antara semilirnya angin pedesaan. Silakan datang ke Kampung Mataraman yang buka sejak pagi sampai malam hari. (SM)