Jembatan Bantar yang Menggetarkan Hati

289
Komunitas sepeda mengadakan upacara di Jembatan Bantar Kulonprogo. (sri widodo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Jembatan Bantar, jembatan gantung terletak di batas wilayah Sentolo Kulonprogo dengan wilayah Bantul, merupakan bangunan heritage. Jembatan yang panjang dan langka ini agaknya potensial dijadikan sebagai obyek wisata, karena keberadaannya cukup menarik dan strategis.

Setidaknya inilah pengakuan dari komunitas sepeda onthel Yogyakarta. Terbukti ketika memperingati detik-detik Proklamasi, Kamis (17/08/2017),  komunitas Podjok (Paguyuban Onthel Djogjakarta) menggunakan jembatan ini untuk tempat upacara mereka. Sekitar 150 anggota lengkap dengan sepeda onthel melakukannya dengan khidmat.

Wulandari (25) salah seorang anggota Podjok mengaku cukup senang ikut upacara di jembatan Bantar.  “Ini kan luar biasa, kita biasanya upacara di lapangan. Ini upacara di jembatan bersejarah, menggetarkan hati saat kita ikuti rangkaian upacara,” ucapnya.

Jembatan gantung ini sudah tidak digunakan karena umurnya sudah tua. Fungsinya sudah digantikan oleh jembatan lain dua jalur yang dibangun di sebelah selatan jembatan lama.

Towil selaku Ketua Podjok kemudian bersama komunitasnya menamainya jembatan “merah putih”, karena telah digunakannya untuk upacara di hari bersejarah bagi bangsa Indonesia itu.

“Dari hati yang dalam kami mengajak masyarakat tetap bersatu. Jembatan ini sebagai simbol cinta Merah Putih serta persatuan dan kesatuan Republik Indonesia,” kata Towil.

Pada upacara tersebut Towil yang merupakan penduduk Bantar Banguncipto Sentolo merupakan koreografernya. Meski kondisi jembatan sempit namun tak menghalangi sekitar 150 pesepeda menggelar upacara. Mereka mendirikan tiang bendera pada salah satu sisi di tengah jembatan, kemudian berdiri berjajar di sisi lain menghadap ke arah tiang bendera, lengkap dengan sepeda onthelnya.

Tampilan peserta upacara yang mengenakan pakaian tradisional dan pakaian pejuang, menambah suasana khidmat. Bahkan mereka membawa  pula berbagai atribut seperti bambu runcing, senapan dan bendera-bendera Merah Putih kecil.

Layaknya upacara umumnya,  di atas jembatan gantung dilakukan pengibaran bendera, pembacaan teks proklamasi, teks Pancasila dan amanat pembina upacara. “Kami rasakan  aura jembatan yang luar biasa, ada nilai sejarah karena tahun 1945 jembatan ini berdiri, arsiteknya Ir Soekarno. Jembatan ini dilindungi dan dilestarikan sebagai bahan edukasi kepada generasi berikutnya,” kata  Towil.

Di sekitar jembatan itu konon sekitar tahun 1947 sering terjadi pertempuran antara tentara Indonesia dengan Belanda, pada zaman yang disebut sebagai ‘kles kedua’ oleh orang Jogja.

Peserta upacara hari itu tidak hanya warga Sentolo dan Jogja namun ada juga perwakilan Komunitas Sepeda Tua Indonesia (Kosti) Kebumen Jawa Tengah.

Peserta upacara, Agus Subagya, berpendapat jembatan Bantar layak dijadikan obyek wisata. “Kita pernah dengar di luar negeri ada rumah makan di atas jembatan yang indah. Saya kira di sini bisa dibuat rumah makan. Tentu ada penataan atau aksesories agar menjadi semakin menarik,” ujarnya.

Menurut Agus, orang berwisata ingin menikmati suasana yang berbeda dari yang biasa-biasa. “Jembatan Bantar tidak termasuk jembatan yang biasa-biasa saja,” kata dia. (wid)