Jemparingan Mataraman Tanpa Asap Rokok

367
Dengan duduk bersila, pemanah melepaskan anak panahnya. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Lebih dari 40 orang pemanah, sebagian perempuan mengikuti gladhen atau latihan sekaligus pertandingan jemparingan di Kestalan kompleks Pura Pakualaman Yogyakarta. Kegiatan itu digelar dalam rangka Tingalan Dalem KGPAA Paku Alam X, Sabtu Kliwon (05/05/2018).

“Berlangsung selapan hari sekali setiap Tingalan Dalem Setukliwonan. Ada hadiah. Selain nyamping atau kain batik dari Pura, juga dari para mitra seperti Gembira Loka dan lainnya,” kata Ir Rimawan dengan nama Paring Dalem Mas Riyo Sestrodirdjo selaku koordinator kepada koranbernas.id.

Para pemanah usai mengecek sasaran  anak panahnya. (arie giyarto/koranbernas.id)

Olahraga ini memang unik. Peserta pria mengenakan pakaian adat Mataraman duduk di tikar, menthang atau menarik gendhewa dan melepas anak panah.

Dilaksanakan 20 kali rambahan dan setiap rambahan terdiri empat anak panah. Setelah terdengar teriak aba-aba siap,  lepas dan selesai dalam bahasa Jawa, para pemanah berbondong-bondong menuju sasaran untuk mengecek ke mana anak panahnya.

“Cuma di kiri dan kanan. Belum bisa kena sasaran,” kata seorang ibu. Banyak pula anak panah yang melenceng jauh dan jatuh di belakang tirai pembatas sehingga harus mencarinya di rerumputan.

Budi memperoleh bendera putih. Anak panahnya menancap di sasaran warna putih. (arie giyarto/koranbernas.id)

Sasarannya kain sebesar pipa paralon kecil, bagian atasnya diberi warna merah. “Kalau bisa menancap di sasaran warna merah dapat tiga bendera. Karena saya cuma berhasil menancap di bagian putih ya cuma dapat satu bendera,” kata Budi salah seorang pemanah tentang bendera yang diraihnya.

Jemparingan ternyata juga telah banyak menarik minat anak-anak muda. “Memang gampang-gampang susah dibanding panahan dengan posisi berdiri,” kata seorang pemanah muda menjawab pertanyaan koranbernas.id.

Menariknya lagi selama jemparingan berlangsung pemanah dilarang merokok, sehingga olahraga ini betul-betul sehat, steril tanpa asap rokok.

Setiap bertanding, para pemanah menjaga posisi duduk, punggung tegak, power untuk menarik, jalan kaki dan sekali lagi, tanpa rokok. (sol)