Jemparingan Mencuri Hati Anak-anak Muda

119
Anggota Komunitas Jemparingan Temanggung beraksi memainkan panah mengincar sasaran. (endri yarsana/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Jemparingan merupakan seni memanah gaya Mataram yang dulu sering digelar di seluruh wilayah kerajaan Keraton Yogyakarta.

Sekarang, olahraga tradisional itu mampu mencuri hati anak-anak muda di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Temanggung Jawa Tengah, kemudian berminat belajar..

Jemparingan awalnya hanya dimainkan oleh anggota keluarga kerajaan dan orang-orang lain yang dianggap punya posisi sosial tinggi. Dalam perkembangannya, seni memanah ini menjadi olahraga bagi semua orang.

Masyarakat yang tergabung dalam komunitas Jemparingan Temanggung berlatih memanah sedikitnya setiap seminggu dua kali, Selasa dan Jumat, di Jalan HOS Cokroaminoto Temanggung.

Komunitas yang terbentuk sejak 1,5 tahun lalu ini memiliki anggota aktif 30 orang, tersebar di Kabupaten Temanggung. Mereka ingin tradisi Jemparingan yang dulu pernah redup dapat kembali digemari oleh masyarakat luas.

Ketua Komunitas Jemparingan Kabupatern Temanggung, Edy Purwanto, ditemui di sela-sela latihan Jemparingan, mengatakan, memang ada perbedaan antara olahraga memanah dengan Jemparingan.

Panahan pada umumnya  dilakukan dengan posisi berdiri, tapi jemparingan dilakukan dengan posisi duduk bersila, dan biasanya peserta mengenakan pakaian tradisional Mataram Kuno.

“Posisi duduk ini sesuai dengan gaya Mataraman, untuk membentuk dua barisan dengan menghadap ke barat. Posisi duduk ini bukan muncul tanpa alasan,” ujarnya.

Dahulu, para bangsawan biasanya memanah sambil bercengkerama membicarakan bisnis sambil menikmati kopi, teh atau makanan ringan. Oleh karenanya, posisi duduk dirasa paling sesuai dan nyaman.

Busur panah yang terbuat dari bambu ditarik ke arah kepala sebelum akhirnya ditembakkan ke arah sasaran berupa bedor atau wong-wongan panjang 30 senti dan diameter 3,5 senti. Sedang jarak antara posisi duduk dengan target sejauh 30 meter.

“Olahraga ini merupakan pelatihan membentuk karakter, karena kita perlu mencapai kedamaian batin sebelum menembakkan anak panah. Harapan kami, agar generasi muda dapat merasa mencintai olahraga Jemparingan, dan kami ingin agar tradisi ini jadi sesuatu yang dianggap olahraga keren bagi para generasi muda dan tentunya dapat melestarikan kebudayaan ini,” harapnya. (sol)