Jenderal (Purn) Tyasno Pernah Diusir dari Sekolah

812

KORANBERNAS.ID — Masih ingat Jenderal TNI Purnawirawan Tyasno Sudarto? Pria kelahiran Magelang 14 November 1948 ini pernah menjadi Kepala Staf Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (Kastaf TNI AD).

Mungkin karena kesemaptaan jasmaninya sejak masih menjadi Taruna Akademi Militer Nasional (AMN), Akabri Darat, hingga kini staminanya tetap terjaga. Pada usia 69 tahun Tyasno masih tampil gagah dan bugar. Tampak lebih muda dari usianya dan selalu necis.

Rupanya, Tyasno punya cerita sewaktu masih sekolah di Taman Dewasa atau SMA di lingkungan perguruan Taman Siswa. Dia pernah “diusir” dari sekolahnya.

Akhirnya dia bersama beberapa teman belajar di bawah pohon. Jika pengusiran itu terjadi lagi, hal yang sama dia lakukan lagi yakni belajar di bawah pohon.

Kenapa diusir? “Karena sekolah waktu itu dikuasai oleh kekuatan komunis. Dan saat itu saya menjadi ketua Gerakan Siswa Nasional Indonesia atau GSNI komisariat sekolah. Saya dianggap berbahaya karena berseberangan politik dengan mereka,” katanya saat memberikan pembekalan pada Deklarasi Alumni GSNI di Wisma Kagama UGM Bulaksumur, Sabtu (20/01-2018).

Baca Juga :  Gubernur DIY Tak Harus Dilantik Presiden

Meski pengusiran berlangsung berulang-ulang namun Tyasno muda bersama teman-teman pantang menyerah. Untunglah, kata Tyasno, Nyi Hadjar Dewantara akhirnya melarang sekolah Tamansiswa dikuasai oleh salah satu kekuatan politik.

Akhirnya suasana sekolah kembali berjalan normal. Tyasno dan teman-teman terus aktif di GSNI untuk belajar tentang nasionalisme.

“Saya sangat beruntung pada saat kelas 2 saya terpilih ke Jakarta untuk menerima gemblengan tentang nation and character building langsung dari Bung Karno. Kelas 2 lho, bayangkan,” katanya dengan bangga mengenang masa mudanya.

Dari aktif berorganisasi di GSNI dia merasa terisi jiwa raganya dengan kecintaan kepada negara dan bangsa. Demikian pula mengenai sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia merebut kemerdekaan Indonesia dan mengisi kemerdekaan yang tidak kalah sulitnya.

Pelopor

Menurut dia, Pancasila, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika harus dipahami. Pemuda harus menjadi pelopor persatuan dan kesatuan mengingat Indonesia terdiri dari ratusan suku bangsa, bahasa, adat istiadat dan budaya dengan semangat saling menghormati keberagaman ini.

Baca Juga :  Kangen Pak Tino Sidin ? Datang Saja ke Museumnya

Meski kemudian menjadi prajurit TNI atau tentara yang tidak diizinkan berpolitik, namun di dada Tyasno bersemayam rasa nasionalisme yang kokoh.

Baru setelah purnawira dari TNI AD, Tyasno terpanggil kembali terjun dalam pembinaan anak muda. Dia merasa prihatin banyak pemuda tidak hafal Pancasila.

Sebagian dari pemuda tidak mengetahui sejarah bangsanya, tidak kenal para pahlawannya. Juga tidak kenal lagu-lagu perjuangan. Hal ini terjadi karena memang di sekolah banyak mata pelajaran yang berkait dengan itu dihapus.

Dia menilai, inilah salah satu strategi untuk melemahkan pemuda, sehingga terlena jika ada kekuatan besar yang ingin mengubah dasar negara Pancasila dengan ideologi lain.

Hal ini tidak boleh terjadi sehingga dia sangat mendukung ditumbuhkembangkannya kembali GSNI di seluruh wilayah Indonesia.

Dia pun merasakan betapa pentingnya pendidikan nation and character building menghadapi ancaman-ancaman yang dihadapi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menurut Tyasno, bangsa ini harus berpegang pada pesan Bung Karno. Jasmerah, jangan tinggalkan sejarah. (sol)